Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

HARGA KARET di Pasaran Masih Tinggi

JAKARTA--Harga komoditi karet dinilai masih rendah, meski terus mengalami kenaikan harga di pasar internasional beberapa bulan belakangan.

JAKARTA--Harga komoditi karet dinilai masih rendah, meski terus mengalami kenaikan harga di pasar internasional beberapa bulan belakangan.

Penasehat Gapkindo Asril Sutan Amir mengatakan harga terendah karet tahun ini harusnya berada di level US$3,5 per kilogram.

"Saya perkirakan harga karet 2013 berada di kisaran US$3,5--US$4,5 per kilogram. Kalau lihat harga sekarang memang belum menyentuh level terendah perkiraan itu," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (19/2/2013).

Asril berharap harga karet tahun ini bisa terus merangkak naik hingga bergerak di kisaran US$3,5--US$4,5 per kilogram. Berdasarkan data bloomberg, harga karet di Tokyo Commoidty Exchage pada Senin (18/2) menyentuh US$3,48 per kilogram.

Adapun untuk kontrak di Shanghai Futures Exchange untuk pengiriman September naik US$4,24 per kilogram. Sementara itu, kontrak karet di Thailand mencapai US$3,26 per kilogram.

Meski demikian, kenaikan harga karet diprediksinya masih berlanjut beberapa bulan mendatang. Pasalnya, pasokan karet mengalami penurunan akibat musim hujan yang melanda negara-negara produsen karet.

"Kenaikan harga kemungkinan masih akan terjadi sampai April karena suplai memang minim akibat musim hujan," bebernya.

Selain minimnya pasokan, kebijakan pembatasan ekspor karet mentah yang dilakukan oleh tiga negara produsen karet diakuinya telah berhasil mendongkrak harga karet.

Seperti diketahui, tiga negara produsen karet yaitu Indonesia, Thailand dan Malaysia sepakat untuk mengurangi volume ekspor karet alam sebanyak 300.000 ton selama enam bulan sejak Oktober tahun lalu hingga Maret tahun ini.

Di rentang waktu tersebut, Thailand hanya akan mengekspor 143.000 ton karet, sedangkan Indonesia dan Malaysia masing-masing 117.000 ton dan 40.000 ton. Perhitungan volume ekspor tersebut didasarkan pada kapasitas ekspor karet ketiga negara tersebut selama tiga tahun terakhir.

Disinggung mengenai masa berlaku perjanjian pembatasan ekspor yang bakal berakhir Maret mendatang, Asril enggan berkomentar banyak. Menurutnya, lanjut atau tidaknya kebijakan pembatasan ekspor bisa dilihat dari dua sisi.

"Dari sisi makro, kebijakan pembatasan ekspor berkaitan dengan harga komoditi. Kalau harga komoditi naik, maka penerimaan negara juga akan naik," ujarnya.

Kenaikan harga komoditi karet yang terjadi sejak penerapan kesepakatan pembatasan ekspor, lanjutnya, juga berimbas pada meningkatnya kesejahteraan petani karet. Menurutnya, jika kenaikan harga karet terus berlangsung maka petani juga bakal tertarik menanam karet.

Sementara itu, dari sisi mikro kebijakan pembatasan ekspor dinilainya bergantung pada kebijakan 3 negara yang terikat dalam perjanjian tersebut.

"Dulu ini persoalan antara Malaysia, Indonesia, dan Thailand. Namun, sekarang Malaysia posisinya sudah net-importer sehingga lanjut atau tidaknya pembatasan ekspor tinggal bergantung pada policy Thailand dan Indonesia," ungkapnya. (dot)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Others
Sumber : Muhammad Kholikul Alim
Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper