BANDARA SOEKARNO-HATTA: Bantah abaikan safety, AP II siap diinvestigasi soal radar mati

JAKARTA--Manajemen PT Angkasa Pura II, operator Bandara Internasional Soekarno--Hatta, menyatakan siap jika pemerintah melakukan audit atau investigasi menyusul insiden matinya radar akibat terputusnya perangkat UPS di bandara tersebut pada Minggu (16/12).Direktur
Hery Trianto
Hery Trianto - Bisnis.com 21 Desember 2012  |  01:16 WIB

JAKARTA--Manajemen PT Angkasa Pura II, operator Bandara Internasional Soekarno--Hatta, menyatakan siap jika pemerintah melakukan audit atau investigasi menyusul insiden matinya radar akibat terputusnya perangkat UPS di bandara tersebut pada Minggu (16/12).Direktur Operasi Kebandarudaraan PT Angkasa Pura II (AP II) Endang A Sumiarsa mengatakan perseroan justru menyambut baik respon pemerintah terhadap insiden tersebut mengingat sejauh ini pihaknya sudah melakukan prosedur sesuai standar operasi."Kalau ibarat nonton sepak bola, penonton komentar belum tentu benar. Silahkan mau diaduit (insiden itu), audit bukan musuh kami," katanya dalam konferensi pers terkait dengan insiden matinya radar itu, Kamis (20/12).Endang mengatakan mestinya para pemangku kepentingan terkait dengan penerbangan mengerti dan memahami betapa sulitnya pelayanan mengatur pesawat tanpa radar, tetapi atas nama keselamatan di atas segala-galanya para pengatur lalu lintas udara atau air traffic control (ATC) mampu mengatasinya. "Itu luar biasa (pengaturan non radar), upaya yang dilakukan ATC saat radar mati itu luar biasa," tegasnya.Pada Minggu (16,12), sistem pemandu lalu lintas udara otomatis JAATS atau Jakarta Automatic Air Traffic System mengalami gangguan akibat kerusakan.Hal itu akibat kerusakan yang terjadi pada perangkat uninterruptible power supply (UPS) yang mendukung pasokan energi listrik pada pukul 16.55 WIB. Insiden itu menyebabkan sistem tak bekerja selama 15 menit dan pada pukul 19.15 WIB, penerbangan normal kembali.Saat insiden terjadi, dengan alasan keselamatan guna mencegah hal-hal tak diinginkan, ATC memutuskan membatasi jumlah pendaratan dan lepas landas di bandara tersebut serta melakukan pola pemanduan secara prosedural atau nomn radar. Setidaknya lebih dari 101 penerbangan domestik dan internasional mengalami keterlambatan.Dalam kesempatan tersebut, Direktur SDM dan Umum PT Angkasa Pura II (AP II) Harry Cahyono membantah tuduhan rendahnya kualitas petugas ATC yang dihembuskan oleh sejumlah media.Dia menegaskan kualitas SDM menjadi konsentrasi pertama dan utama bagi perseroan karena prinsip utama perusahaan adalah menempatkan faktor keselamatan dalam derajat yang paling tinggi."Karyawan--karyawan AP II dilatih untuk melek mata ngomong safety. Kualitas petugas air traffic control atau ATC ietu merupakan konsentrasi pertama," tegasnya.Tahun ini, katanya, perseroan menghabiskan sekitar Rp12 miliar dari anggaran internal guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia termasuk petugas ATC. Pada tahun depan, pihaknya akan menaikan anggaran untuk SDM hingga 150%dari tahun ini.Dia mengatakan tak gampang menjadi ATC karena melalui pendidikan dan pelatihan yang berjenjang, mulai dari diklat manajerial, teknis, radar, hingga controler.Apalagi, katanya, perseroan tengah berupaya meresmikan sejumlah bandara baru pada tahun depan, salah satunya Bandara Kuala Namu."Kami sedang bergerak, pada tahun depan ada beberapa bandara kami resmikan. Engga mungkin kami cetak SDM tak berkualitas, kami kirim mereka ke bandara tersibuk misalnya Atalanta, semua demi kualitas, demi safety," tegas Harry.Bantah adanya komplain Dalam kesempatan tersebut, Budi Hendro, Pejabat Pelaksana Tugas GM ATS Bandara Soekarno--Hatta, membanbtah isu pesawat yang hampir bertabrakan terutama dari Lion Air.Menurut dia hingga saat ini belum ada satu pun maskapai penerbangan yang mengajukan komplain terhadap apa yang disebut near miss. Istilah itu bukan bermakna hampir terjadi tabrakan tetapi sesungguhnya berarti berkurangnya separasi atau jarak pemisah antar pesawat dari ketentuan berlaku."Info itu sangat baik, tapi sampai kemarin, saya pribadi belum pernah menyatakan ada near miss. Kalau ada info kami akan declare. Tapi perlu diketahui, info itu harus ada komplain dari maskapai. Sejauh ini belum ada komplain soal near miss. Lion Air juga sudah nyatakan tidak pernah terjadi near miss," tegas Budi.Dia mengatakan sejauh ini kurang lebih ada 10 bandara yang dilengkapi dengan radar. Dia mengatakan apabila radar tidak berfungsi meskipun hal itu tidak diinginkan, tetapi pihaknya sudah menyiapkan prosedur untuk mengatasi hal itu sebagaimana yang dilakukan oleh ATC. (Bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top