Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PRODUKSI PANGAN: Tata Niaga Jagung Selesaikan Pasokan Pakan Ternak

JAKARTA: Tata niaga jagung dengan membuat stok nasional dan harga pembelian pemerintah (HPP)  akan menyelesaikan persoalan komoditas itu yang selalu terjadi di dalam negeri.
Yeni H. Simanjuntak
Yeni H. Simanjuntak - Bisnis.com 31 Mei 2012  |  18:53 WIB

JAKARTA: Tata niaga jagung dengan membuat stok nasional dan harga pembelian pemerintah (HPP)  akan menyelesaikan persoalan komoditas itu yang selalu terjadi di dalam negeri.

Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Udhoro Kasih Anggoro mengatakan jagung harus ditetapkan sebagai bahan pangan pokok yang wajib memiliki stok. Apabila ada stok jagung, harus ada instrumen harga pembelian pemerintah sebagai harga dasar.

"Jadi, kalau jagung bukan sebagai pangan pokok, mari nikmati hiruk pikuk ini. Saat ini, belum ada tata niaga jagung, dengan konsekuensi sebagai pangan pokok, harus ada stok. Kalau ada stok, harus ada HPP," ujarnya hari ini, 31 Mei 2012.

Dia menuturkan impor jagung pada tahun lalu mencapai 3,2 juta ton. Padahal, produksi di dalam negeri tahun lalu mencapai 17,6 juta ton pipilan kering.

Menurutnya, sistem produksi jagung selama ini belum menguntungkan bagi petani. Bahkan, banyak petani jagung yang terjerat dengan rentenir untuk memperoleh permodalan saat hendak musim tanam.

Solusi yang sedang dilakukan, katanya, dengan mengembangkan sentra produksi jagung seperti yang sedang dilakukan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Semula, luas lahan jagung di NTB hanya 3.000 hektare, tetapi saat ini naik menjadi 31.000 hektare. Keperluan jagung oleh industri pakan ternak, katanya, sekitar 7 juta ton sehingga sentra-sentra produksi komoditas itu diharapkan mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

 

Kementan, katanya, akan mencari lokasi sentra jagung untuk menjawab kebutuhan industri pakan ternak, sehingga tidak perlu impor lagi. Pada tahun ini, pemerintah akan membantu pengembangan lahan jagung di Dompu NTB seluas 15.000 ha. Bahkan, rencana pembangunan pabrik pakan ternak di Bali diperkirakan akan dipindah ke NTB, karena lebih dekat dengan sumber bahan baku.

“Inilah bentuk food chain, pemerintah pusat di era desentralisasi harus rajin harus meyakinkan pemda.”

Anggoro mengharapkan 75% kebutuhan jagung dari pabrik pakan ternak dapat dipenuhi dari NTB. Kuncinya, tutur dia, pemerintah pusat dan pemda harus serius untuk mengembangkan jagung mengingat keperluan komoditas tersebut oleh industri pakan ternak sekitar 560.000 ton per bulan.

Dia menuturkan produksi jagung tersebar di seluruh pelosok Tanah Air padahal kebutuhan terus meningkat. Anggaran dari APBN, katanya, terbatas sehingga pengembangan jagung itu dibuat dalam bentuk kluster agar tidak menyebar dalam skala kecil.

Menurutnya, defisit jagung di dalam negeri biasanya terjadi pada Juni, Juli, Oktober, dan Desember. "Itu titik-titik kristis kita."

Persoalan yang dihadapi pada komoditas jagung yaitu food chain, daya saing, dan persoalan lainnya. "Jangan biarkan pasar kita diambil oleh orang lain, harus ada inisiatif, dunia usaha harus mengambil inisiatif. Kami fasilitator dan protector."

Luas tanam jagung tahun ini diperkirakan 4,2 juta hektare.

Pengamat Agribisnis Bungaran Saragih mengatakan persoalan jagung yang utama adalah food chain yang masih lemah di tingkat pengumpul, sehingga sangat lambat untuk menyesuaikan diri pada masa yang akan datang.

Persoalan lain, katanya, unit-unit on farm terlalu kecil dan tersebar di banyak tempat dan organisasi tidak terbentuk. Ketiga, tidak ada koordinator pada komoditas jagung, yang mengatur food chain mulai dari onf farm ke pengumpul dan pengering ke pbarik pakan dan industri ayam. “Efisiensi dan efektivitas food chain ini tidak tercapai, tetapi dalam jangka waktu panjang saya tidak tahu akan berkembang apa tidak. Kalau industri unggas akan berkembang, harus dipenuhi suplai [jagung] dari dalam negeri,” jelasnya.

Apabila tidak ada penyelesaian persoalan itu, katanya, kemungkinan dalam jangka pendek pelaku usaha masih memperoleh keuntungan, tetapi dalam jangka panjang sangat berbahaya sehingga harus ada pihak yang mengambil inisiatif.

 

Dia menjelaskan apabila persoalan food chain tidak dikoordinasi dengan baik akan memunculkan keributan. “Saat panen, petani yang ribut, pada saat paceklik pengusaha yang ribut.”

 

Selain itu, lanjutnya, persoalan data produksi jagung selama ini seringkali diragukan oleh seluruh pihak terutama industri pakan ternak.

Anggoro menuturkan saat ini Kementan sedang memperbaiki data produksi jagung seperti memperbaiki luas baku lahan dan data produksi akan diperbaiki. Data konsumsi juga akan diperbaiki serta metode statistik yang diharapkan akan selesai pada tahun ini.(mmh)

BERITA LAINNYA:


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Intan Permatasari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top