Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PINJAMAN UTANG: Pemerintah dekati 3 kreditur asing

 
Diena Lestari
Diena Lestari - Bisnis.com 22 Mei 2012  |  19:54 WIB

 

 

JAKARTA: Pemerintah tengah menjajaki pinjaman siaga dari 3 kreditur internasional yang totalnya diperkirakan mencapai US$3,5 miliar. 

Rahmat Waluyanto, Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, mengatakan ketiga kreditur internasional tersebut, yakni Bank Pembangunan Asia (ADB), Japan Bank for International Cooperation (JBIC), dan pemerintah Australia. 

"Ini sama dengan yang membantu kita pada 2009-2010. Detailnya nanti setelah negosiasi ya, tapi di antara mereka secara keseluruhan komitmennya bisa US$3,5 miliar," kata Rahmat di Gedung Kemenkeu, hari ini, Selasa 22 Mei 2012. 

Negosiasi contigency loan dengan 3 kreditur internasional tersebut  merupakan kelanjutan pemberian komitmen pinjaman siaga US$2 miliar dari Bank Dunia, baru-baru ini. 

Rahmat menegaskan pinjaman siaga merupakan antisipasi untuk berjaga-jaga dan akan ditarik dalam kondisi tertentu. Misalnya, apabila pemerintah tidak mendapatkan akses penerbitan SBN karena tidak ada permintaan di pasar, atau imbal hasil dalam lelang yang terlampau tinggi. 

"Dalam situasi ini, kita bisa menarik dana yang disediakan dari fasilitas itu. Jadi tidak serta-merta kita tarik untuk pembiayaan APBN, ini semacam insurance menghadapi kondisi terburuk pada saat krisis," terangnya. 

Pada 2009-2010, pemerintah juga mengantongi komitmen contigency loan sebagai antisipasi krisis keuangan. Jumlahnya US$5,5 miliar dan berasal dari Bank Dunia US$2 miliar, ADB US$1 miliar, JBIC US$1,5 miliar, serta Australia US$1 miliar. 

Namun, pemerintah hanya memanfaatkan contigency loan 2009-2010 saat menerbitkan Samurai bonds. Saat itu, kata Rahmat, Indonesia belum mendapatkan peringkat investment grade yang menjadi syarat penerbitan bonds di Jepang, sehingga penerbitan Samurai bonds perlu mendapatkan jaminan dari JBIC. 

"Kita perlu jaminan Jepang, sehingga rating kita secara lokal waktu itu sudah dianggap investment grade. Itu kita hanyamembayar sejumlah biaya untuk garansi atau jaminan dari mereka," kata Rahmat.Untuk memperoleh pinjaman siaga yang diharapkan dapat meningkatkan confidence pasar terhadap Indonesia, pemerintah harus membayar sejumlah commitment fee. Sedangkan untuk menarik pinjaman siaga itu, pemerintah akan dikenakan bunga yang diperkirakan lebih rendah dari 5%. 

"Saya tidak bisa membuka berapa bunganya sekarang. Tapi kalau pinjaman itu tidak ditarik ada commitment fee, kalau pinjaman itu ditarik baru ada bunganya yang diperhitungkan," tuturnya.(msb)

 

BERITA FINANSIAL PILIHAN REDAKSI:

METRODATA ELECTRONICS Siapkan Right Issue

PASAR SURAT UTANG: Investor Cenderung Wait & See

Danareksa Investment Rilis RDPT Infrastruktur

AKSI ALIBABA: Berniat Beli Sahamnya Dari Yahoo! Senilai US$7 Miliar

HARGA EMAS: Pasar Keuangan Tertekan, Logam Mulia Melonjak

TRANSAKSI AFILIASI: Adi Karya Pinjamkan APR Rp57,1 Miliar

TOPIK AKTUAL PILIHAN REDAKSI:

KASUS NARKOBA: Sabu-Sabu Di Sumut Banyak Berasal Dari Malaysia

TRAGEDI SUKHOI: Wah.. Ada Dugaan Penipuan Jamsostek!

JUSUF KALLA: Memimpin Bisnis Beda Dengan Pemerintahan

DAUD YORDAN Naik Ring Lagi Juli

 

ENGLISH NEWS:

PALM OIL Climbs As Biggest Weekly Drop In 5 Months Lures Buyers

PLN To Spend IDR2.54 Trillion For VILLAGE ELECTRICITY Program

ARC Broadens Relationship With ANGLO AMERICAN In Indonesia

MARKET OPENING: Index Fall 46.79 Point

MARKET MOVING: BCA Eyes IDR4 Trillion Infrastructure Loans

RUPIAH Advances Most In Two Weeks On CHINA Pledge

JANGAN LEWATKAN5 Kanal TERPOPULER Bisnis.Com

 

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Ana Noviani

Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top