BBM BERSUBSIDI: Masyarakat Medan siap pakai pertamax

MEDAN: Sebagian besar masyarakat Medan tampaknya sudah siap menerima pembatasan BBM bersubsidi yang rencananya diberlakukan pemerintah mulai awal Mei.Sejumlah anggota masyarakat yang selama ini memiliki mobil satu  dengan kapasitas 1.500 CC seperti
Andi Suhendri Rambe
Andi Suhendri Rambe - Bisnis.com 22 April 2012  |  14:47 WIB

MEDAN: Sebagian besar masyarakat Medan tampaknya sudah siap menerima pembatasan BBM bersubsidi yang rencananya diberlakukan pemerintah mulai awal Mei.Sejumlah anggota masyarakat yang selama ini memiliki mobil satu  dengan kapasitas 1.500 CC seperti Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia sudah siap dengan rencana pemerintah membatasi penggunaan bensin bersubsidi.“Saya sudah siap beralih ke BBM [bahan bakar minyak] lebih mahal. Selama ini pun saya sudah selang-seling menggunakan minyak beroktan tinggi,” ujar J. Sitohang, warga Medan yang mengaku memiliki dua mobil di rumahnya.Dia mengatakan, selama ini mobil Kijang Innova  yang dimiliki sudah menggunakan diesel dari petronas dengan harga Rp10.450 per liter. “Mesin mobil saya lebih terawat. Tarikannya pun lebih bagus jika dibandingkan dengan menggunakan solar yang dijual Pertamina seharga Rp4.500 per liter,” tuturnya.Kendala selama ini untuk menggunakan BBM beroktan tinggi adalah terbatasnya Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU) yang menjual BBM non subsidi (beroktan tinggi). Dia mencontohkan, jika ke luar kota Medan SPBU Petronas yang menjual diesel tidak ada. “Petronas baru ada di kota Medan,” tuturnya.Hal senada diakui oleh T. Manurung, seorang pengusaha di Medan. Dia mengakui selama ini masih menggunakan BBM Pertamina semata-mata karena rasa nasionalisme. “Walaupun ada SPB asing beroperasi di Medan, saya belum pernah mengisi BBM di lokasi itu,” tuturnya.Kalau pemerintah sudah mulai membatasi BBM awal Mei nanti, jelasnya, mau tidak mau akan beralih ke SPBU asing karena kualitas minyak yang dijual disebut-sebut jauh lebih bagus dibandingkan dengan Pertamina.Dia mengatakan, sudah tidak menjadi rahasia bahwa solar dan bersin yang dijual di SPBU Pertamina  sudah bercampur dengan minyak lain. “Banyak SPBU menjual minyak oplosan, sehingga merugikan konsumen. Walaupun SPBU Pertamina sudah meraih sertifikat pasti pas, ternyata tidak menjamin kualitas minyak yang dijual  pasti lebih baik,” tuturnya.Manurung mengakui, dia selalu mengisi BBM di SPBU yang dikeloa Pertamina (coco Pertamina). “Mobil saya sempat rusak karena solar yang dijual belum sesuai standar Euro,” tuturnya.Jadi, kata dia, pembatasan BBM yang akan di berlakukan pemerintah sebenarnya akan menguntungkan SPBU asing yang beroperasi di Indonesia karena mereka sangat ketat dalam pengawasan kualitas. “Konsumen akan lari ke SPBU asing, sedangkan Pertamina bakal kehilangan pasar,” tuturnya. (faa)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top