KONSUMSI BAJA di Indonesia dinilai rendah

JAKARTA: Tingkat konsumsi baja di Indonesia yang hanya sekitar 38,7% masih relatif rendah apalagi bila dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Andhina Wulandari | 19 April 2012 21:41 WIB

JAKARTA: Tingkat konsumsi baja di Indonesia yang hanya sekitar 38,7% masih relatif rendah apalagi bila dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.

 
Kepala Badan Pembinaan Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum Bambang Goeritno mengatakan tingkat konsumsi material konstruksi baja berkorelasi terhadap pembangunan infrastruktur. Pasalnya, baja merupakan salah satu material utama yang digunakan untuk pembangunan.
 
“Konsumsi baja di Indonesia saat ini masih lebih rendah dibandingkan negara lain,” ucapnya  hari ini.
 
Namun menurutnya, konsumsi baja ini diproyeksikan akan terus meningkat seiring dengan adanya program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).
 
Seperti: bandara, jalan tol, pelabuhan laut, rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda dan berbagai infrastruktur lainnya yang memerlukan pasokan baja dengan kuantitas dan kuantitas yang besar. “Baja berkekuatan tinggi ini perlu di dorong menjelang akan dibangunnya proyek besar seperti JSS dan proyek lainnya.”
 
Bambang berharap peranan sumber daya lokal dapat lebih ditingkatkan, sehingga kepastian pasokan dan fluktuasi harga dapat lebih terjamin. Dengan demikian, diharapkan tidak terjadi ketimpangan antara Supply dan Demand baja yang pada akhirnya dapat menghambat kelancaran pembangunan infrastuktur yang telah diprogramkan.
 
Setidaknya dalam kurun waktu lima tahun akan disiapkan dana mencapai Rp1786 triliun untuk pembangunan infrastruktur. Dari anggaran tersebut, Rp681 triliun dipergunakan untuk infrastruktur listrik dan energi; Rp339 triliun untuk jalan raya, Rp326 triliun untuk rel kereta api; dan Rp242 triliun untuk Teknologi Informasi. (sut)
 

 

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top