Produsen gas alam cair didorong pasok pasar lokal

 
Samantha Ardiansyah
Samantha Ardiansyah - Bisnis.com 08 Desember 2011  |  10:10 WIB

 

JAKARTA: PT Pertamina mendorong pemerintah memberlakukan kewajiban pasok dalam negeri (domestic market obligation/DMO) kepada semua produsen gas alam cair, sejalan dengan semakin melonjaknya harga LNG di pasar dunia yang mencapai US$18 per juta Btu.
 
Sebagai produsen LNG, Indonesia sudah seharusnya memanfaatkan kondisi pasar saat ini untuk melakukan renegosiasi kontrak LNG yang harganya masih sangat murah.
 
VP Corporate Communication Pertamina Mochamad Harun mengatakan tingginya harga minyak dunia yang diikuti lonjakan harga LNG (liquified natural gas) mencapai US$ 18 per juta Btu, mengakibatkan kecil kemungkinan Indonesia akan mengimpor gas alam cair tersebut dari Timur Tengah. 
 
Padahal, jelasnya, Indonesia memerlukan pasokan LNG sebesar 10 juta metric ton per tahun (MTA) mulai 2013, sejalan dengan kebijakan pengurangan subsidi energi di dalam negeri.
 
“Kami mendorong pemerintah agar memberlakukan DMO itu kepada para produsen gas, kontraktor kontrak kerja sama [KKKS] yang belum memenuhi kewajibannya memasok LNG untuk kebutuhan dalam negeri,” ujarnya melalui keterangan resmi, hari ini.
 
Dia menegaskan kebijakan alokasi LNG untuk kebutuhan domestik sangat mendesak direalisasikan, mengingat kebutuhan gas alam cair Indonesia yang akan semakin meningkat setiap tahunnya. Lagi pula, lanjutnya, dengan terpenuhinya kebutuhan gas di Tanah Air akan memberikan keuntungan yang lebih besar bagi Indonesia, serta memberikan multiplier effect  yang sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
 
Di sisi lain, perkembangan pasar LNG pada saat ini berada di kisaran 15%--20% dari harga Japan cocktail crude (JCC) atau sekitar US$16,5—US$22 per juta Btu pada harga JCC saat ini sebesar US$110 per barel. 
 
Menurutnya, dengan terealisasinya beberapa proyek pembangunan unit penampungan regasifikasi terapung (floating storage regasifkation unit/FSRU), tentunya Indonesia akan memerlukan pasokan LNG yang cukup besar pada tahun depan.
 
Saat ini, paparnya, Pertamina bersama PT PGN Tbk tengah membangun FSRU di Teluk Jakarta dengan kapasitas 3 juta MTA, dan ditargetkan beroperasi pada awal Maret 2012. Selain itu, imbuhnya, Pertamina juga telah menyiapkan pembangunan terminal penerima LNG di Jawa Tengah dengan kapasitas 3 juta MTA yang akan beroperasi mulai kuartal I/2013. 
 
Gas dari terminal penerima LNG di Jawa Tengah ini, selanjutnya akan dialirkan secara terintegrasi melalui pipa transjawa yang sedang dikerjakan PT Pertamina Gas. Tahap pertama, pembangunan pipa Semarang-Gresik sepanjang 250 km mulai dilaksanakan pada awal 2012 dan diperkirakan on stream pada 2013.
 
Tahap kedua akan dibangun ruas pipa Semarang-Cirebon yang akan menghubungkan Cirebon-Muara Tawar, sehingga seluruh pembangkit listrik milik PT PLN (Persero) dan industri di sepanjang pantai utara Jawa akan terpenuhi kebutuhan gasnya.
 
“Saat ini, baru Pertamina, satu-satunya perusahaan energi di Indonesia yang memenuhi komitmen DMO-nya. Pasokan gas Pertamina ke konsumen terdiri dari 34% kepada PGN, 20% untuk memenuhi kebutuhan industri, 18% untuk industri pupuk, 25% untuk pembangkit listrik, dan sisanya untuk kebutuhan kilang Pertamina,” paparnya.
 
Selain kerja sama dengan PGN, kata Harun, Pertamina bersama PLN juga membangun terminal penerima mini LNG untuk memenuhi kebutuhan gas Tanjung Batu, Batakan, Balikpapan, Semberah, Bali, Pomala, Jeneponto, Tello, Minahasa, dan Halmahera. Proyek berkapasitas total kapasitas 1 juta MTA itu direncanakan mulai beroperasi pada kuartal III/2013. (ln)
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top