Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Masalah Hidayat & Mari Pangestu akan selesai 2 minggu

JAKARTA: Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan membentuk tim kecil untuk membahas kebijakan ekspor rotan, yang dituding pelaku usaha sebagai penyebab industri lokal kekurangan bahan baku.Menteri Perindustrian M. S. Hidayat mengatakan
Nancy Junita
Nancy Junita - Bisnis.com 28 September 2011  |  07:40 WIB

JAKARTA: Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan membentuk tim kecil untuk membahas kebijakan ekspor rotan, yang dituding pelaku usaha sebagai penyebab industri lokal kekurangan bahan baku.Menteri Perindustrian M. S. Hidayat mengatakan tim tersebut akan mengambil keputusan mengenai revisi Peraturan Menteri Perdagangan no. 36/2009 dalam 2 pekan ke depan.Sampai saat ini, kedua kementerian belum sepakat apakah akan meneruskan peraturan yang mengizinkan ekspor rotan non-budidaya dalam kuota tertentu itu.Menperin bersikeras pemerintah harus melarang ekspor rotan non-budidaya untuk menunjukkan keberpihakkan pada industri nasional.Dia menjelaskan kebijakan ekspor rotan selama ini malah mendukung industri pengolahan rotan asing dan menekan daya saing industri Indonesia di pasar global.“Filosofi saya, untuk memperkuat industri dalam negeri, harus ada keberpihakan yang jelas. Jangan memberi amunisi pada industri asing,” papar Hidayat, Selasa malam (27/9).Di sisi lain, Menteri Perdagangan Mari Pangestu menegaskan revisi Permendag yang masa berlakunya berakhir bulan depan tersebut tidak akan berisi larangan ekspor rotan“Tidak [akan melarang ekspor]. Akan ada beberapa opsi, tapi kunci utamanya bahan baku tersedia,” katanya, setelah pertemuan tertutup dengan Menteri Perindustrian, Senin.Ketua Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI) Hatta Sinatra menjelaskan ekspor rotan Indonesia mendorong pertumbuhan industri kerajinan dan mebel rotan di China dan Vietnam, sebaliknya menyebabkan industri serupa di dalam negeri berguguran.“Kalau mau [industri rotan] China dan Vietnam terus maju, silakan bukan ekspor sebebas-bebasnya. Biarkan saja industri lokal mati,” utasnya, ketika dihubungi hari ini.Saat ini, jelas Hatta, industri kerajinan dan mebel rotan dalam negeri hanya berproduksi 20% dari total kapasitas sementara industri China menikmati pertumbuhan tinggi pasar furniture di negara tersebut yang diprediksi lebih besar dari pasar Eropa atau Amerika Serikat.Volume ekspor mebel rotan Indonesia merosot tajam pasca pemberlakukan Peraturan Menteri Perdagangan no. 12/2005 tentang Ketentuan Ekspor Rotan yang kemudian dilanjutkan melalui Permendag no. 36/2009.Peraturan tersebut mengizinkan ekspor rotan hingga 25.000 ton per tahun dan rotan setengah jadi hingga 10.000 ton setiap tahun oleh pemegang izin Eksportir Terdaftar Rotan (ETR).Sepanjang 2010, volume ekspor mebel rotan Indonesia sebanyak 43.000 ton jauh terus turun dari volume ekspor tahun sebelumnya yang mencapai 53.000 ton dan volume ekspor 2008 yang sebanyak 76.000 ton.Berdasarkan nilai, ekspor mebel rotan Indonesia pada 2010 mencapai  US$138 juta turun dibandingkan tahun sebelumnya yang bernilai US$167 juta.Mendag mengatakan pasokan bahan baku rotan pada industri lokal bisa dijamin tanpa harus melarang perdagangan rotan ke luar negeri.Aturan yang baru, jelasnya, akan disempurnakan agar pengekspor rotan mengutamakan pasokan bahan baku ke dalam negeri.“Nanti, eksportir harus punya pembuktian penjualan ke pasar dalam negeri,” kata Mari.Hidayat menjelaskan larangan ekspor rotan tidak akan merugikan pengumpul, pemerintah akan menjamin penyerapan produksi rotan petani melalui pembentukan buffer stock bahan baku rotan jika ekspor diputuskan dilarang.“Tentunya secara ekonomis, saya tidak mau gunakan APBN. Harus komersil,” katanya.Selama ini, menurut Menperin, industri di China dan Vietnam menikmati pasokan bahan baku kualitas tinggi dari Indonesia sementara industri dalam negeri mengeluhkan kelangkaan rotan jenis yang sama di pasar domestik. (faa)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top