Investor Taiwan tertarik investasi di energi

JAKARTA: Investor asal Taiwan menyatakan ketertarikannya untuk berinvestasi di sektor energi dan mineral di Indonesia setelah selama ini lebih banyak mengimpor bahan mentah.Di sisi lain, pemerintah Indonesia menawarkan investasi di sektor komponen otomotif
Hasan Zein Mahmud
Hasan Zein Mahmud - Bisnis.com 26 September 2011  |  14:32 WIB

JAKARTA: Investor asal Taiwan menyatakan ketertarikannya untuk berinvestasi di sektor energi dan mineral di Indonesia setelah selama ini lebih banyak mengimpor bahan mentah.Di sisi lain, pemerintah Indonesia menawarkan investasi di sektor komponen otomotif dan permesinan tekstil yang kini getol diperjuangkan untuk mengurangi ketergantungan impor.Vice Minister Ministry of Economic Affairs Taiwan Sheng-chung Lin mengatakan tujuan kedatangan delegasi ekonomi Taiwan ke Indonesia adalah untuk mempromosikan kerja sama ekonomi dan investasi kedua negara. Taiwan, tuturnya, tertarik dengan berbagai kebijakan insentif yang disediakan oleh pemerintah bagi investor yang serius menanamkan modal ke Indonesia.“Perkembangan ekonomi Indonesia baik dan telah mengembangkan berbagai kebijakan insentif. Kami tahu ada kebijakan insentif tax holiday dan tax allowance. Kami ingin mempelajari lebih dalam tentang berbagai peluang yang bisa kami ciptakan di sini,” terangnya usai bertemu dengan Wakil Menteri Perindustrian Alex S.W. Retraubun hari ini.Lin mengatakan Taiwan sangat berminat untuk berinvestasi di Indonesia terutama di sektor energy dan mineral. Menurut dia, Taiwan selama ini banyak mengimpor bahan mentah tambang mineral dari Indonesia.Selain kedua sektor tersebut, tuturnya, Taiwan juga ingin berinvestasi pada komponen kendaraan. “Kami juga impor produk komponen kendaraan dari Indonesia.”Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri Kemenperin Dedi Mulyadi mengatakan salah satu investor asal Taiwan telah melakukan survey lokasi rencana penanaman investasi biodiesel berbasis jarak pagar di Mamuju, Sulawesi Barat. Dia mengungkapkan investor tersebut membutuhkan lahan seluas 100 hektar sebagai sumber bahan baku, selain akan mengembangkan system intiplasma.“Sudah survey dan Mamuju itu paling cocok. Akan tetapi mereka masih menemui kendala terkait dengan mitra yang akan digandeng. Kalau soal offtaker, mereka bilang bisa domestic maupun ekspor karena Taiwan pun butuh biodiesel. Nanti kami akan fasilitasi untuk bertemu dengan Dinas terkait,” katanya.Dedi juga mengatakan pemerintah menawarkan investasi pengolahan berbasis sumber daya alam, seperti besi baja, bauksit, dan mineral lain yang selama ini diekspor mentah. “Nanti masih didiskusikan lagi, termasuk rencana investasinya berapa.”Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kemenperin Budi Darmadi mengatakan pemerintah menawarkan investasi komponen otomotif tier 1 dan tier 2 dan juga mesin-mesin pertekstilan. “Kami baru menawarkan industri komponen tier 1 dan tier 2 otomotif dan mesin tekstil. Mereka jago di mesin jahit sepatu dan industry mesin jahit lainnya. Beberapa komponen mesin jahit yang belum bisa dibuat seperti spindle, dan banyak yang lainnya.”Untuk komponen otomotif, tuturnya, Taiwan bisa bermain di industry kabel, reflector, dan handle pintu. “Kami undang untuk melengkapi pohon industry yang masih bolong-bolong.”Sementara itu, Direktur Kimia Dasar Ditjen Basis Industri Manufaktur Tony Tanduk mengatakan pemerintah juga menawarkan peluang investasi di industry petrokimia, seperti kilang etilena. Pemerintah, tuturnya, berharap Taiwan akan masuk bermain di industry hulu petrokimia yang masih banyak bergantung pada impor.“Kalau mereka masuk ke industri petrokimia, sebenarnya kekurangan kita banyak. Kita lebih arahkan mereka ke industri hulunya. Selama ini untuk industri kilang belum ada yang khusus untuk itu. Ini bisa kita harapkan untuk memenuhi kebutuhan dari dalam negeri.”Taiwan, tuturnya, merespons positif tawaran pemerintah dan siap melakukan penjajakan. “Tempatnya masih belum pasti karena beberapa tempatnya masih dalam pembahasan. Mereka sedang mempelajari. Nilai investasinya besar sekitar Rp5-10 triliun. Kapasitas produksinya bisa mencapai 1-2 juta ton dengan investasi sebesar itu.” (Bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top