Panadol rilis koyo pereda nyeri

JAKARTA: Panadol, produk anti nyeri  dari GlaxoSmithKline (GSK), memperbesar pasarnya dengan meluncurkan obat luar pereda nyeri berupa koyo modern, Panadol pain relief patches, dengan target pasar  konsumen  usia 20-45 tahun.“Target
Zulkarnaini Muchtar
Zulkarnaini Muchtar - Bisnis.com 22 September 2011  |  14:03 WIB

JAKARTA: Panadol, produk anti nyeri  dari GlaxoSmithKline (GSK), memperbesar pasarnya dengan meluncurkan obat luar pereda nyeri berupa koyo modern, Panadol pain relief patches, dengan target pasar  konsumen  usia 20-45 tahun.“Target konsumen usia 20-45 tahun, mereka yang aktif, dan sering mengalami pegal dan nyeri otot. Namun, meski terkena pegal dan nyeri, mereka harus terus beraktivitas,”  kata Senior Brand Manager Panadol Anie R. Zetga, tadi siang.Produk baru itu bersaing dengan merek lainnya, karena potensi pasarnya cukup menjanjikan. Pihaknya optimistis akan perkembangan pasarnya, karena berdasarkan riset consumer tracking, kata Anie, diketahui lebih dari 80% orang dewasa di Indonesia pernah mengalami pegal dan nyeri otot. Target tahun pertama, katanya, untuk mengisi pasar dan kanal-kanal yang perpotensi.Untuk meredakan pegal dan nyeri otot, kata   Anie, pada umumnya masyarakat Indonesia menggunakan jenis obat luar. Koyo, katanya, salah satu jenis obat luar pereda nyeri yang sangat familiar dan  umum digunakan oleh masyarakat Indonesia. Atas pertimbangan itu, Panadol meluncurkan koyo modern yang berbeda dengan merek lainnya. Koyo Panadol patch, katanya,  berbentuk gel berkadar air tinggi dan bahan lembut yang elastic, mengandung glycol salicylate, menthol, dan camphor. Lalu bahan itu bekerja aktif meredakan pegal dan nyeri otot, elastis dan fleksibel, nyaman bagi kulit dan tidak menyebabkan iritasi, serta tidak meninggalkan nota di kulit.Panadol merupakan  brand global yang ada di lebih dari 85 negara di dunia sebagai pereda nyeri  berupa obat  minum pereda demand an sakit kepala untuk dewasa dan anak-anak, menstruasi, pereda flu dan batuk,  dan obat luar berupa koyo.Sementara itu, pakar kebugaran dan olahraga dokter Michael Triangto mengatakan nyeri otot paling sering terjadi pada otot penopang tubuh seperti pada leher, bahu, siku, pinggang dan lutut. “Nyeri otot adalah masalah yang terjadi pada otot kerangka karena gerakan berlebihan atau tidak seimbang. Akibatnya otot mengejang setelah berkontraksi dalam waktu lama tanpa berhenti. Kondisi tersebut muncul karena relaksasi otot sangat kurang dan pergerakan tubuh yang terbatas atau statis,” kata Michael.(api)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top