Sejumlah asumsi ekonomi meleset

JAKARTA : Pemerintah memperkirakan realisasi sejumlah asumsi makro ekonomi akan mengalami deviasi pada tahun ini, a.l. inflasi mencapai 6,5% atau meleset jauh dari asumsi APBNP 2010 yang hanya 5,3% dan produksi minyak yang tidak mencapai target 965.000
Yanto Rachmat Iskandar | 20 Desember 2010 10:03 WIB

JAKARTA : Pemerintah memperkirakan realisasi sejumlah asumsi makro ekonomi akan mengalami deviasi pada tahun ini, a.l. inflasi mencapai 6,5% atau meleset jauh dari asumsi APBNP 2010 yang hanya 5,3% dan produksi minyak yang tidak mencapai target 965.000 barel per hari.

Agus Suprijanto, Pjs Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, menuturkan jika melihat tingkat inflasi tahunan (year on year) yang sampai dengan November mencapai 6,3%, maka realisasi inflasi pada tahun ini akan menyentuh 6,5%.

Perkiraan realisasi tersebut lebih tinggi dari asumsi inflasi di APBNP 2010 yang sebesar 5,3% maupun prognosa awal pemerintah dan Bank Indonesia 5 plus/minus 1%.

Tingginya tingkat inflasi ini disebabkan oleh inflasi volatile food , terkait terbatasnya pasokan beberapa komoditas pangan, seperti beras dan kelompok aneka bumbu, sehubungan dengan pola musiman memasuki musim paceklik, ujar dia kepada Bisnis, hari ini.

Kecenderungan inflasi yang tinggi, lanjut dia, membuat Bank Indonesia mempertahankan suku bunganya pada level 6,5%. Dengan demikian, diperkirakan realisasi suku bunga SBI 3 bulan rata-rata mencapai 6,6%.

Terkait nilai tukar, Agus menjelaskan pemerintah berkeyakinan rata-ratanya pada tahun ini mencapai US$9.100 per dolar AS seiring dengan tren penguatan rupiah yang didukung oleh tingginya cadangan devisa yang per November sebesar US$92,75 miliar.

Harga minyak mentah Indonesia (ICP) diperkirakan mencapai rata-rata US$78,2 per barel atau lebih rendah dari asumsi dalam APBNP 2010 sebesar rata-rata US$80 per barel.

Untuk lifting (produksi) ICP, Agus mengatakan pemerintah memproyeksi realisasinya mencapai rata-rata 955 ribu barel per hari (bph), di bawah target APBNP 2010 yang dipatok 965 ribu bph.

Sebelumnya, Agus Suprijanto memastikan penerimaan dari sektor migas tidak akan terganggu meskipun target lifting ICP tidak tercapai. Pasalnya, ada kompensasi dari kecenderungan harga minyak yang meningkat.

Ya memang lifting akan lebih rendah (dari target APBNP 2010), tetapi penerimaan tetap aman karena kan harga minyak naik, katanya. (mrp)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top