Aspek komersial Natuna harus tuntas enam bulan

JAKARTA: Pemerintah memberikan waktu enam bulan kepada PT Pertamina (Persero) dan tiga mitranya untuk menuntaskan pembahasan ketentuan komersial pengelolaan Blok East Natuna sebelum penandatanganan kontrak bagi hasil ditandatangani.
News Editor | 17 Desember 2010 08:15 WIB

JAKARTA: Pemerintah memberikan waktu enam bulan kepada PT Pertamina (Persero) dan tiga mitranya untuk menuntaskan pembahasan ketentuan komersial pengelolaan Blok East Natuna sebelum penandatanganan kontrak bagi hasil ditandatangani.

Pertamina pada Jumat kembali menandatangani head of agreement (HoA) dengan dua mitra barunya, yaitu Total E&P Activities Petrolieries dan Petronas. Dengan penandatanganan HoA tersebut berarti secara resmi Pertamina menggandeng tiga mitra di Blok East Natuna, setelah sebelumnya BUMN itu menggandeng ExxonMobil.

Dirjen Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Evita Herawati Legowo mengatakan dengan terpilihnya tiga mitra Natuna D Alpha, langkah selanjutnya yang harus ditempuh Pertamina dan mitranya adalah membahas ketentuan komersial (commercial term). Apabila pembahasan ketentuan komersial itu tuntas, katanya, para pihak harus mengajukan syarat dan ketentuan final yang akan dibahas bersama pemerintah.

Sebelumnya pemerintah memang sudah memberikan term and conditions, tetapi itu baru garis besar. Term and conditions itu dibahas dengan pemerintah setelah commercial term tuntas di antara mereka. Sepertinya mereka memerlukan pendalaman soal itu. Jadi masih ada dua tahap menurut saya, ungkapnya Jumat.

Pembahasan ketentuan komersial tersebut termasuk di dalamnya mengenai besaran hak partisipasi masing-masing pihak. Selain itu, pembahasan itu juga mungkin diperluas hingga masalah swap aset di antara Pertamina dan para mitranya.

Besaran share itu bergantung pada pembahasan ketentuan komersial, ujar Evita.

Sebelumnya, sumber Bisnis menyebutkan dalam skenario kepemilikan di blok itu, Pertamina disebut-sebut tetap menguasai mayoritas atau sekitar 45% dan ExxonMobil 30%. Sisanya, masing-masing Petronas dan Total sebesar 12,5%.

Untuk kepemilikan hak partisipasi tersebut, Pertamina juga memasukkan syarat untuk bisa masuk ke dalam aset-aset migas para mitra, baik di dalam dan di luar negeri. Sebagai contoh, Pertamina mensyaratkan agar BUMN Indonesia ini bisa membeli 15% hak partisipasi milik Total di Blok Mahakam sebagai konsesi penguasaan hak partisipasi perusahaan Perancis itu di Natuna D Alpha.

Pemerintah, sambung Evita, meminta kepada Pertamina untuk menuntaskan pembahasan ketentuan komersial tersebut dalam 6 bulan. Mungkin memang butuh waktu lama, tetapi tidak boleh terlalu lama. Permintaan kami, agar pembahasan itu bisa diselesaikan selama 6 bulan.

Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh mengatakan pembukaan kemitraan dengan investor di Blok East Natuna diperlukan untuk mengatasi masalah pembiayaan dan juga teknologi sehingga proyek tidak mandek atau tersendat di tengah jalan. Natuna D Alpha, katanya, dikenal memiliki sumber daya yang besar, yaitu sekitar 500 miliar barel minyak dan 222 triliun kaki kubik gas.

Dan semua tahu Natuna D Alpha mengandung kadar CO2 yang tinggi, yaitu sampai dengan 70%. Kehadiran para mitra skala dunia yang besar dan memiliki teknologi adalah untuk mengatasi masalah ini dan Indonesia memiliki sikap untuk mengelola lapangan skala besar dan bermasalah dengan teknologi dan dana besar, maka kita perlu untuk terbuka menerima mitra yang kompeten, paparnya.

Terkait dengan alokasi migas yang ada, Darwin mengungkapkan pemerintah akan memprioritaskan alokasi gas untuk kepentingan domestik. Ekspor, katanya, dibutuhkan untuk meningkatkan keekonomian proyek sebagai syarat untuk bisa mengundang investor baru.

Kalaupun dialokasikan untuk domestik, tentu akan mempertimbangkan keekonomian proyek. Yang terpenting, itu untuk peningkatan investasi dan juga peningkatan produksi gas dalam negeri.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup