Roadmap energi nasional rampung Maret 2011

JAKARTA: Pemerintah menargetkan rancangan kebijakan energi nasional (R-KEN) 2010-2050 pengganti Peraturan Presiden No.5/2006 tentang kebijakan energi nasional (KEN) bisa selesai paling lambat Maret 2011.
Tiara Syahra Syabani
Tiara Syahra Syabani - Bisnis.com 15 Desember 2010  |  12:05 WIB

JAKARTA: Pemerintah menargetkan rancangan kebijakan energi nasional (R-KEN) 2010-2050 pengganti Peraturan Presiden No.5/2006 tentang kebijakan energi nasional (KEN) bisa selesai paling lambat Maret 2011.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh yang juga selaku Ketua Harian DEN mengatakan penyusunan KEN 2010-2050 sedang dalam tahap penyelesaian dan dijadwalkan selesai paling lambat Maret 2011.

"Jika sudah selesai dengan persetujuan DPR maka RKEN 2010-2050 akan ditetapkan menjadi Perpres baru pengganti Perpres No.5/2006 tentang kebijakan energi nasional," ujar Darwin dalam rapat kerja DEN bersama Komisi VII hari ini.

Darwin menyebutkan beberapa poin pokok dalam draft KEN 2010-2050 antara lain meningkatkan pangsa sumber daya energi baru dan terbarukan (EBT) serta meningkatkan cadangan terbukti energi fosil dan mengurangi pangsanya dalam bauran energi nasional.

Lebih lanjut, dia juga memaparkan sasaran yang terdapat pada draft KEN 2010-2020 antara lain terpenuhinya kebutuhan listrik sebesar 710-910 Twh pada 2030 dan sebesar 2.710 Twh pada 2050. Kemudian terpenuhinya kebutuhan energi final sebesar 310-390 MTOE pada 2030 dan 640-820 MTOE pada 2050.

"Pada 2030 peran energi baru dan terbarukan sebesar 30% dan energi fosil minyak maksimal sebesar 20%. Dan pada 2050 masing-masing sebesar 40% dan 16%," ujarnya.

Draft KEN 2010-2050 juga memuat poin target penggunaan bahan bakar gas (BBG) untuk angkutan umum mencapai 70% dan penggunaan BBN sebesar 20% dari total BBM sektor transportasi pada 2020. Selain itu, ditargetkan penggunaan mobil hybrid dan listrik mencapai 20% dari total jumlah kendaraan pada 2050.

Adapun jumlah pelanggan listrik pada 2015 ditargetkan mencapai rasio elektrifikasi 85% dan mendekati 100% pada 2020. Sedangkan rasio penggunaan gas rumah tangga pada 2015 mencapai 85%.

Darwin juga menyinggung perlu adanya disinsentif terhadap energi fosil guna mendukung pengembangan EBT. Kedepan, kata dia, pihaknya akan menggarisbawahi pentingnya memaksimalkan penggunaan EBT dan meminimalkan penggunaan energi fosil. Serta optimalkan penggunaan gas.

"Dalam jangka panjang perlu seimbangkan dengan nuklir, seimbangkan juga dengan batu bara karena relatif lebih murah daripada energi fosil yang lain," ujarnya.

Anggota Komite DEN Herman Darnel Ibrahim mengatakan berdasarkan rapat kerja hari ini pihaknya mendapat masukan untuk menambahkan pokok kebijakan kemandirian energi. Misalnya saja dengan pengendalian pengelolaan energi nasional oleh negara bukan oleh pihak luar serta pemanfaatan teknologi nasional.

"Kemandirian energi juga dapat dicapai dalam bauran energi yang bertumpu pada sumber regional dan nasional, bertumpu pada sumber lokal. Artiya, kita mengimpor tapi bertumpu pada yang tersedia di domestik," ujar Herman.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top