Industri keramik butuh pasokan gas 100 mmscfd

JAKARTA : Industri keramik nasional membutuhkan pasokan gas minimal sebesar 100 juta kaki kubik per hari (mmsfcd) untuk mendukung ekspansi dan peningkatan utilisasi kapasitas mencapai 100% guna menjaga pertumbuhan sektor ini sebesar 20% pada tahun depan.
manda | 15 Desember 2010 08:53 WIB

JAKARTA : Industri keramik nasional membutuhkan pasokan gas minimal sebesar 100 juta kaki kubik per hari (mmsfcd) untuk mendukung ekspansi dan peningkatan utilisasi kapasitas mencapai 100% guna menjaga pertumbuhan sektor ini sebesar 20% pada tahun depan.

Para pelaku usaha di sektor ini kembali mengkhawatirkan belum adanya kepastian akan kontinuitas suplai gas dan jaminan harga dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN) dapat menganggu kinerja industri keramik nasional.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Achmad Widjaya mengatakan sampai hari ini belum ada kepastian jaminan suplai dari pemerintah, khususnya PT PGN untuk kelangsungan pasokan gas pada tahun depan.

Per hari ini, kepastian pemerintah tidak ada. Kalau energi tidak ada, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Tolong, kami berharap pemerintah memberi gambaran pasokan, harus jelaskan dulu, katanya kepada Bisnis, hari ini.

Tahun ini, industri keramik mendapat alokasi gas sebesar 60 mmscfd dari total kebutuhan riil sebesar 103 mmscfd. Sepanjang 2010, utilisasi sektor ini sekitar 80% dari total kapasitas terpasang sebesar 277 juta meter per tahun.

Dia mengatakan industri keramik nasional pada tahun depan diharapkan mampu bertumbuh sebesar 20% untuk mendukung pembangunan infrastruktur dan konstruksi di Tanah Air. Dalam rangkaian mendukung pencapaian pertumbuhan tersebut, kata Achmad, industri berniat menaikkan utilisasi kapasitas produksi dari saat ini sekitar 80% menjadi 100% pada tahun depan.

Kita harus tumbuh, kalau tidak tumbuh artinya biaya investasi kami tidak kembali. Tahun depan pasokan gas diharapkan naik dari 65 mmscfd menjadi minimum 100 mmscfd. Ini baru sektor keramik saja, total seluruh industri pengguna gas setidaknya membutuhkan 1003 mmscfd, tegasnya.

Sektor keramik merupakan salah satu dari sekitar 12 industri pengguna gas yang tergabung dalam Forum Industri Pemakai Gas Bumi. Desakan agar pemerintah memberikan kepastian suplai dan peningkatan kuantitas, serta jaminan harga telah berulang kali disuarakan pelaku usaha di sektor manufaktur ini.

Selain keramik, sejumlah sektor pengguna gas tersebut di antaranya pupuk, makanan dan minuman, kaca lembaran, kaca botol, baja, plastik, hingga sarung tangan karet dan kimia hulu. Achmad yang juga menjaba sebagai Sekjen Forum Industri Pemakai Gas Bumi menjelaskan total kebutuhan gas untuk seluruh sektor industri (kecuali pupuk) pada tahun ini sebesar 486 mmscfd dengan harga rata-rata di level US$4,3 per mmbtu. Namun, dari angka tersebut masih ada kekurangan pasokan (defisit) sebesar 100 mmscfd untuk gas industri karena pengalihan suplai ke proyek Chevron.

Pada 2011-2012, konsumsi gas sektor industri akan naik 2 kali lipat dari pertumbuhan ekonomi, yakni meningkat 12%. Untuk menjawab kenaikan konsumsi tersebut, Achmad mendesak pemerintah agar alokasi gas sebesar 100 mmscfd yang dipakai industri hulu migas dikembalikan ke sektor industri.

Kalau bisa gas sebesar 100 mmscfd yang dipakai untuk Chevron itu dikembalikan ke industri, tukasnya.

Di tengah belum adanya kepastian pasok gas, kata Achmad, industri saat ini dihadapkan pada rencana kenaikan harga jual gas pada kontrak baru. Kenaikan harga jual gas ini, menurut Achmad, secara pasti akan mengerek naik harga produk akhir, termasuk keramik. Dia menggambarkan harga keramik putih berpotensi naik dari Rp25.000 per meter menjadi Rp40.000 per meter.

Dari pihak pengusaha, harga [gas] selalu dapat dikompromikan, harga bisa dibicarakan dan dinegosiasikan, dibujetkan, tetapi tolong beri gambaran pasokan dulu kepada kami. Kepastian pemerintah dari sisi energi tidak jelas. Pemerintah belum menentukan sikap mengenai perusahaan-perusahaan yang sudah go green ini dapat energi dari mana, tegasnya.

Kendati dihadapkan pada persoalan pasokan energi, industri keramik nasional mampu menarik minat investor asing untuk berinvestasi di dalam negeri. Sunpower International Ceramics dan Kylos Resources, produsen asal Taiwan berminat membangun pabrik di Indonesia. Total investasi diperkirakan US$ 57,5 juta pada 2011.

Sunpower International Ceramics tertarik untuk membangun pabrik dengan kapasitas sebesar 30.000 meter persegi per hari. Adapun Kylos Resources berencana membangun fasilitas produksi dengan kapasitas 85.000 meter persegi per hari. Investasi yang bakal dibenamkan oleh kedua investor ini diperkirakan US$57,5 juta dengan asumsi kebutuhan modal untuk satu line produksi (10.000 meter per segi) sebesar US$15 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top