Insentif proyek kilang Balongan tunggu proposal Kuwait Petroleum

JAKARTA : Pemerintah menunggu proposal dari Kuwait Petroleum Corporation sebelum memutuskan memberi insentif untuk pembangunan kilang minyak di Balongan, Jawa Barat, hasil kerja sama perusahaan asal Timur Tengah itu dengan PT Pertamina (Persero).
manda
manda - Bisnis.com 14 Desember 2010  |  10:27 WIB

JAKARTA : Pemerintah menunggu proposal dari Kuwait Petroleum Corporation sebelum memutuskan memberi insentif untuk pembangunan kilang minyak di Balongan, Jawa Barat, hasil kerja sama perusahaan asal Timur Tengah itu dengan PT Pertamina (Persero).

Sejauh ini, pembahasan paket insentif masih dalam tahap awal mengingat investor masih mematangkan rencana kerjasama proyek kilang tersebut.

"Soal insentif masih dibahas. Saya menunggu mereka mengajukan, paket insentif seperti apa yang diinginkan. Tetap fokus, saya juga harus win-win untuk posisi Indonesia. Kalau hanya untuk kepentingan mereka, kita tentu akan bersikap," kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan seusai bertemu dengan pimpinan Kuwait Petroleum Corporation bersama Menteri Perindustrian M.S. Hidayat dan Direktur Utama Pertamina Karen Agustin, hari ini.

Gita menyatakan belum dapat memastikan jadwal pembangunan kilang tersebut. Namun, diperkirakan pembangunan kilang setidaknya membutuhkan waktu 3 tahun--4 tahun. Saat ini, menurut dia, proyek yang diperkirakan menelan investasi hingga US$8 miliar itu masih dalam tahap studi kelayakan awal.

"Secara pasti, investasi itu akan membuka lapangan kerja yang besar karena terintegrasi. Potensinya ribuan tenaga kerja dapat diserap. Ini merupakan investasi skala besar dengan kepentingan untuk menopang ketahanan energi," kata Gita.

Hal senada pun disampaikan oleh Hidayat. Dia menegaskan pemerintah berharap studi kelayakan awal dapat selesai pada Januari 2011, sehingga dilanjutkan dengan studi kelayakan yang dijadwalkan rampung Agustus 2011.

Mereka menjajaki dengan serius peluang investasi tersebut," kata Hidayat.

Sebelumnya, nota kesepahaman [memorandum of understanding/ MoU] kerja sama antara Pertamina dengan Kuwait Petroleum telah ditandatangani kedua pihak di Kuwait.

Kapasitas produksi kilang patungan itu diprediksi mencapai 200.000-30.000 barel per tahun. Selain memproduksi bahan bakar minyak, kilang itu direncanakan memproduksi produk turunan yang digunakan sebagai bahan baku industri petrokimia dalam negeri.

Pembangunan kilang itu dibutuhkan, terutama untuk mendukung pengembangan industri petrokimia nasional. Saat ini, Indonesia masih mengimpor nafta, etilena, propilena, paraxilena, dan produk-produk turunannya serta bahan bakar minyak (BBM).

"Hal tersebut dapat diatasi dengan integrasi refinery dan pabrik petrokimia. Karena itu, akan dilakukan pengembangan industri petrokimia melalui klaster industri berbasis migas kondensat di Gresik dan Tuban serta Bontang," kata Hidayat. (hl)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top