Direktur UNESCO longok Borobudur

YOGYAKARTA: Direktur Regional Asia Pasifik UNESCO Hubert Gijzen dan Menbudpar Jero Wacik hari ini melongok kondisi Candi Borobudur, Jateng, di sela-sela aktivitasnya mengikuti World Conference on Culture, Education and Science (WISDOM).
Ria Indhryani | 08 Desember 2010 08:45 WIB

YOGYAKARTA: Direktur Regional Asia Pasifik UNESCO Hubert Gijzen dan Menbudpar Jero Wacik hari ini melongok kondisi Candi Borobudur, Jateng, di sela-sela aktivitasnya mengikuti World Conference on Culture, Education and Science (WISDOM).

Erupsi Gunung Merapi pastinya telah memberikan efek yang besar pada obyek wisata andalan Yogyakarta tersebut. Oleh karena itu perhatian utama UNESCO adalah secepatnya merestorasi Candi Borobudur, ujar Gijzen, pagi ini.Bersama dengan Candi Prambanan, Candi Borobudur adalah situs budaya UNESCO yang tertutup debu vulkanik erupsi Merapi sehingga membahayakan eksistensinya seperti kembali ke masa lalu saat candi tersebut tertimbun tanah akibat letusan gunung dan tersembunyi di dalam hutan menunggu untuk ditemukan.Pascaerupsi Merapi, Borobudur tertimbun debu yang setelah dikumpulkan totalnya hampir 57 m3 atau sekitar 14 hingga 15 truk. Pembersihan abu vulkanik tidak semudah membersihkan abu biasa, apalagi dapat merusak batu.Belum lagi jika terkena air, debu akan menjadi padat dan makin susah untuk dibersihkan. Jika abu juga masuk ke sistem drainase Candi Borobudur maka pembersihannya akan lebih sulit lagi karena jika ada penyumbatan pembuangan air kondisinya akan makin parah, kata Gijzen.Dia berharap kearifan lokal dan ilmu modern dapat membantu pembenahan kembali Candi Borobubur. Dia meminta masyarakat berperan agar Candi Borobudur bertahan dengan dipelihara terus hingga generasi-generasi ke depan .Oleh karena itu apa yang dibahas dalam konferensi internasional WISDOM di UGM dari 5-8 Desember 2010 akan sangat berperan dalam upaya para pakar dan akademisi menjaga Borobudur sebagai world heritage.Apalagi Borobudur merupakan monumen Buddha terbesar di dunia yang berada di tengah-tengah masyarakat Muslim terbesar sehingga menjadi tempat pembelajaran dari suatu keharmonisan kehidupan antarmanusia, kata Gijzen.Dia mengaku memberikan apresiasi yang tinggi atas pelaksanan WISDOM sebagai konferensi pertama tingkat dunia yang mengangkat isu tentang kearifan lokal. Kegiatan serupa perlu dilaksanakan di waktu mendatang, karena diperlukan banyak dialog antarmasyarakat internasional untuk menjaga keseimbangan hubungan yang harmonis antarmanusia dan hubungan manusia dengan alam.Gijzen juga mengingatkan agar Borobudur jangan dilihat sekadar monumen tapi juga menjadi sentra pemberdayaan masyarakat yang bergantung mata pencahariannya pada candi ini. Eksistensi candi sebagai tujuan wisata dunia harusdiperkuat dengan penerapan kearifan lokal dari masyarakat sekitarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top