Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ekspor 1,6 Juta Butir Telur ke AS, Pengusaha: Kalau Bisa 160 Juta Butir

Pemerintah berencana mengekspor 1,6 juta butir telur setiap bulan ke AS. Pengusaha menyanggupi hingga 160 juta butir.
Pedagang merapikan telur ayam ras di salah satu gerai di Depok, Jawa Barat, Rabu (16/10/2024). Bisnis/Himawan L Nugraha
Pedagang merapikan telur ayam ras di salah satu gerai di Depok, Jawa Barat, Rabu (16/10/2024). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Pengusaha ayam petelur menyanggupi ekspor 1,6 juta butir telur hingga 160 juta butir telur setiap bulan ke negara yang tengah dilanda krisis harga telur ayam alias eggflation, termasuk ke Amerika Serikat (AS).

Untuk diketahui, pemerintah berencana mengekspor 1,6 juta butir telur setiap bulan ke Amerika Serikat seiring dengan kelangkaan stok telur di Negeri Paman Sam.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas Indonesia (GPPU) Ahmad Dawami mengatakan produksi telur secara nasional diperkirakan mencapai 14.000 ton per hari atau 14 juta kilogram per hari.

Bahkan, dia juga mengeklaim pasokan telur ayam negeri tetap aman jika pemerintah mengirimkan 16 juta butir—160 juta butir setiap bulan ke AS.

“Kalau misalkan ada ekspor 1,6 juta butir [setiap bulan] ke Amerika, nothing lah. It's nothing lah, kalau bisa 16 juta [butir] atau 160 juta butir [setiap bulan] malah bagus, ya,” kata Dawami saat dihubungi Bisnis, Rabu (26/3/2025).

Menurutnya, semakin tinggi ekspor telur ayam yang dilakukan Indonesia, maka semakin baik. “Kalau bisa per bulan 160 juta butir saja tidak masalah. Indonesia malah makin bagus kalau bisa demikian. Dan itu harus diinisiasi atau dipimpin atau dilokomotifi oleh pemerintah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dawami menjelaskan bahwa peningkatan produksi telur sejatinya mengikuti kebutuhan pasar atau permintaan masyarakat. Sehingga, jika kebutuhan telur meningkat, maka produksi juga bisa digenjot. Begitu pun sebaliknya.

“Kalau mau dinaikkan [produksi telur ayam] itu sebenarnya tidak mengalami kesulitan, karena dengan menambah pemeliharaan, menambah pemeliharaan umur ayam saja, sudah pasti akan bertambah kan jumlah telurnya,” terangnya.

Meski demikian, Dawami menuturkan bahwa untuk melakukan ekspor telur ke negara yang dilanda eggflation seperti AS tidaklah mudah. Sebab, diperlukan sejumlah syarat agar telur ayam dalam negeri bisa lolos ke mancanegara.

“Memang kalau lihat peluang, pasti peluang untuk ekspor dan sebagainya. Tapi kan ekspor juga tidak segampang itu. Karena ekspor itu kan perlu beberapa persyaratan,” tuturnya.

Dia menjelaskan harus ada kecocokan dengan skema government-to-government (G2G) antar dua negara. Setelahnya, diperlukan survei dan pengecekan kualitas biosecurity ayam petelur, seperti kualitas telur, higienitas, hingga keamanan.

“Apalagi perbedaannya kalau telur di Amerika, di Eropa itu kan hampir semuanya warnanya putih, di Indonesia warnanya coklat. Kan tidak gampang merubah pikiran orang,” imbuhnya.

Sebelumnya diberitakan, harga telur di AS tembus US$4,11 atau Rp68.103 per kilogram. Begitu pula harga telur di Singapura yang mencapai US$3,24 atau Rp53.687 per kilogram dan di Australia US$4,13 atau Rp68.428 per kilogram.

Krisis telur juga terjadi di Swiss yang harganya menyentuh US$6,85 atau sekitar Rp113.534 per kilogram. Selain itu, di Selandia Baru harga telur mencapai US$6,22 atau Rp103.063 per kilogram dan harga telur di Prancis dibanderol US$4,08 atau Rp67.606 per kilogram.

Sementara itu, jika menengok Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas), Rabu (26/3/2025) pukul 16.06 WIB, harga rata-rata telur ayam ras dibanderol Rp29.502 per kilogram di tingkat konsumen. Harganya sedikit turun di bawah harga acuan penjualan (HAP) Rp30.000 per kilogram.

Data tersebut juga menunjukkan harga telur ayam termahal tembus ke harga Rp70.000 per kilogram di Papua Pegunungan, sedangkan harga telur ayam terendah dibanderol Rp25.246 per kilogram di Aceh.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rika Anggraeni
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper