Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Donald Trump Segera Pimpin AS, Bos BI Was-Was 5 Dampak Nyata Ini ke Indonesia

Perkembangan politik AS yang diikuti kebijakan fiskal ekspansif, penurunan suku bunga The Fed yang terbatas, hingga penguatan dolar AS terus dicermati BI.
Pekerja melintas dekat logo Bank Indonesia di Jakarta. Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Pekerja melintas dekat logo Bank Indonesia di Jakarta. Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA — Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo terus memantau dinamika politik dan ekonomi Amerika Serikat usai kemenangan Donald Trump dari Kamala Harris dalam pelaksanaan Pilpres AS.

Perry menuturkan pihaknya mencermati lima hal—yang sedikit banyak—akan menjadi acuan bank sentral dalam menentukan kebijakan ke depan, termasuk pemangkasan suku bunga BI Rate

Pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI hari ini, Perry memutuskan untuk menahan BI Rate di angka 6% demi menjaga rupiah tidak semakin melemah. Di mana depresiasi rupiah akibat index dolar AS yang kembali menguat.

"Fokus kebijakan moneter diarahkan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak semakin tingginya ketidakpastian geopolitik dan perekonomian global dengan perkembangan politik di AS," ujarnya dalam konferensi pers, Rabu (20/11/2024).

Terdapat lima hal yang menjadi sorotan Dewan Gubernur BI terkait pemerintahan AS ke depannya.

Pertama, yakni perkembangan politik AS diperkirakan akan diikuti arah kebijakan fiksal lebih ekspansi dan strategi ekonomi berorientasi domestik atau inward looking policy, termasuk penerapan tarif perdagangan yang tinggi dan kebijakan imigrasi yang ketat.

Artinya, AS akan menerapkan tarif perdagangan yang tinggi kepada negara mitra dagangnya demi mendorong ekonomi dalam negeri. Terutama kepada negara yang mengalami surplus besar terhadap AS, yakni China, Eropa, Meksiko, dan Vietnam.

Dampaknya, bahwa terjadi kecenderungan perlambat ekonomi dunia dari proyeksi sebelumnya 3,2% menjadi 3,1%. Terutama perlambatan ekonomi di negara yang terkena tarif tinggi.

Kedua, proses penurunan infalsi di AS dipekrirakan akan lebih lambat sehingga proses penurunan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) akan lebih terbatas.

Padahal, keputusan FFR tersebut menjadi salah satu pertimbangan Perry dalam menentukan arah kebijakan BI Rate.

Ketiga, defisit fiskal pemerintah AS yang akan melebar dari perkiraan awal 6,5% terhadap PDB menjadi 7,7%, berdampak pada penerbitan US Treasury yang lebih banyak.

Keempat, dengan FFR yang turun terbatas dan yield UST naik, imbal hasil atau yield UST akan dikerek naik untuk menarik minat investor, dan memicu outflow dari negara lainnya.

“Preferensi investor global memindahkan portfolio kembali ke AS,” lanjut Perry.

Kelima, karena meningkatnya investasi portfolio di AS, membuat indeks dolar AS atau DXY yang menguat.

Usai pada bulan lalu indeks dolar mengarah ke level 101, saat ini telah mencapai lebih dari 106.

Penguatan dolar itu pun berdampak kepada hampir semua mata uang dunia, baik negara maju dan berkembang, termasuk Indonesia.

Untuk itu, Perry menekankan pihaknya akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan intervensi di pasar valas, optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper