Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Airlangga Minta Bioavtur Diproduksi UMKM Bukan Perusahaan Besar

Airlangga meminta agar UMKM dapat memproduksi bioavtur yang berbahan baku minyak jelantah atau minyak bekas maupun palm kernel oil.
Pesawat garuda Indonesia mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (11/6/2024). Bisnis/Paulus Tandi Bone
Pesawat garuda Indonesia mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (11/6/2024). Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia Airlangga Hartarto menilai bioavtur atau sustainable aviation fuel (SAF) sebaiknya diproduksi oleh UMKM bukan perusahaan besar. 

Airlangga mengatakan UMKM dapat memproduksi bioavtur yang berbahan baku minyak jelantah atau minyak bekas maupun palm kernel oil. Pembuatan bioavtur oleh UMKM akan membuat mereka lebih mudah naik kelas. 

“Yang besar main di biodiesel, bioavtur kasih dulu ke UMKM,” ujarnya dalam acara Peluncuran Program Tahap Lanjutan ‘Teknologi Peningkatan Ekspor UMKM Indonesia’ di JCC Senayan, Senin (22/7/2024).

Lebih lanjut, Airlangga menyebutkan produksi bioavtur sejalan dengan roadmap Indonesia mengimplementasikan SAF tersebut sebanyak 5% hingga 2025. 

Airlangga menyebutkan produksi bioavtur bersifat klaster dan harus membuat industrinya secara bertahap mulai dari skala kecil hingga besar. Nantinya, UMKM akan bersaing dengan produsen atau perusahaan besar. 

“Karena nanti lawannya adalah perusahaan besar dengan produksi 250.000 ton per tahun, sehingga yang dari UMKM naik kelas terlalu lambat,” jelasnya.

Roadmap itu termaktub dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 8 Tahun tentang Penetapan Aksi Mitigasi Perubahan Iklim Sektor Transportasi untuk Pencapaian Target Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional.

Dalam pemberitaan Bisnis sebelumnya, berdasarkan proyeksi PT Kilang Pertamina Indonesia (KPI), kebutuhan avtur Indonesia diperkirakan terus meningkat hingga mencapai 7,3 juta kiloliter per tahun atau 125.000 barel per hari pada 2035.

Dengan asumsi persentase SAF meningkat di rentang 2% menjadi 5%, volume kebutuhan SAF diperkirakan naik mencapai 0,4 juta kiloliter per tahun atau 6,3 ribu barel per hari pada 2035. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper