Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ekspor CPO RI Anjlok, Gapki Ungkap Biang Keroknya

Stok melimpah menggerus harga CPO, membuat nilai ekspor komoditas sawit melorot.
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Badan Litbang Kementerian ESDM memulai kajian kelayakan pemanfaatan minyak nabati murni (crude palm oil/CPO) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) hingga Desember 2020. Bisnis/Arief Hermawan P
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Badan Litbang Kementerian ESDM memulai kajian kelayakan pemanfaatan minyak nabati murni (crude palm oil/CPO) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) hingga Desember 2020. Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai ekspor minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) anjlok pada April 2024. Pengusaha sawit hal itu merupakan imbas stok melimpah.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Eddy Martono mengatakan, pelemahan ekspor dipicu oleh melimpahnya pasokan minyak nabati lainnya hingga menekan harga CPO di pasar global. Menurut Eddy, saat ini harga CPO cenderung tidak terjadi kenaikan dan bertahan di kisaran Rp12.000 per kilogram.

Bahkan, pada Februari 2024, Eddy menyebut harga minyak kedelai jauh lebih murah dibandingkan minyak sawit di pasar global.

"Pelemahan ekspor ini karena minyak nabati lain seperti kedelai semakin murah [harganya] karena suplai yang bagus," ujar Eddy saat dihubungi, Rabu (15/5/2024).

Kondisi harga CPO yang semakin tidak kompetitif disebut semakin diperparah dengan kebijakan pemerintah dalam menetapkan bea keluar (BK) dan pungutan eskpor (PE) CPO. Adapun pemerintah mengenakan BK eskpor CPO pada periode April 2024 sebesar US$52 per ton dan PE sebesar US$90 per ton. 

Menurut Eddy, seharusnya kebijakan BK dan PE terhadap CPO bisa dilakukan lebih fleksibel mengikuti perkembangan kondisi pasar CPO dunia. Relaksasi threshold harga referensi untuk penentuan BK dan PE CPO dianggap perlu dipertimbangkan pemerintah agar harga CPO Indonesia bisa lebih berdaya saing dibandingkan minyak nabati lainnya.

"PE dan BK seharusnya selalu disesuikan dengan situasi dan kondisi. Ini sebaiknya kita perlu melihat kebijakan kita agar harga CPO kita kompetitif," jelasnya.

Lebih lanjut, Eddy memperkirakan ekspor CPO pada Q2/2024 akan membaik seiring mulai berkuranganya pasokan minyak nabati lainnya.

"Secara historical stok minyak nabati tanaman semusim akan berkurang, mereka mulai tanam lagi di semester II, seharusnya di Q2/2024 membaik [ekspor CPO]," tuturnya.

Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini mencatat nilai ekspor CPO dan turunannya pada April 2024 sebesar US$1,39 miliar telah turun 10,49% dibandingkan nilai ekspor pada Maret 2024 sebesar US$1,56 miliar.

Diberitakan Bisnis sebelumnya, Harga komoditas minyak kelapa sawit atau CPO berjangka pada perdagangan Jumat (10/5/2024) kontrak Juli 2024 melemah 21 poin ke 3.810 ringgit per ton di Bursa derivatif Malaysia, melemah 0,91 dalam sepekan. Kontrak Mei 2024 juga ditutup melemah 76 poin menjadi 3.847 ringgit per ton dan telah melemah 0,95% dalam sepekan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Penulis : Dwi Rachmawati
Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper