Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BI Kerek Suku Bunga Acuan Saat Prabowo Tidak Ingin BI Rate Naik Lagi

Prabowo menilai Bank Indonesia (BI) tidak perlu menaikkan suku bunga acuan. Ini alasannya
BI Kerek Suku Bunga Acuan Saat Prabowo Tidak Ingin BI Rate Naik Lagi. Presiden dan Wakil Presiden Terpilih periode 2024-2029, Prabowo Subianto (kiri) dan Gibran Rakabuming Raka menyampaikan keterangan pers seusai Rapat Pleno Terbuka Penetapan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Pemilu Tahun 2024 di Jakarta, Rabu (24/4/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
BI Kerek Suku Bunga Acuan Saat Prabowo Tidak Ingin BI Rate Naik Lagi. Presiden dan Wakil Presiden Terpilih periode 2024-2029, Prabowo Subianto (kiri) dan Gibran Rakabuming Raka menyampaikan keterangan pers seusai Rapat Pleno Terbuka Penetapan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Pemilu Tahun 2024 di Jakarta, Rabu (24/4/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Penasihat ekonomi Presiden terpilih Prabowo Subianto menilai Bank Indonesia (BI) tidak perlu menaikkan suku bunga.

Adapun, pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 23 dan 24 April 2024, BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6,25%. Kenaikan suku bunga ini sebagai langkah untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dari kemungkinan meningkatnya risiko global.

“Kita mematok target pertumbuhan yang cukup tinggi, perlu ada dukungan kebijakan moneter. Perlu ada stimulus. Kami berharap kebijakan fiskal dan moneter tetap dipertahankan,” kata ajudan Prabowo, Dradjad Wibowo, pada Rabu (24/4/2024) dilansir dari Bloomberg.

Menurutnya, Prabowo ingin menjaga kebijakan ekonomi tetap stabil menjelang pelantikannya sebagai presiden terpilih pada Oktober mendatang. Prabowo-Gibran sendiri menargetkan pertumbuhan sebesar 8% dalam kurun waktu 5 tahun.

Melemahnya Rupiah, kata Wibowo, bukan disebabkan oleh faktor fundamental ekonomi sehingga kenaikan suku bunga tidak diperlukan saat ini.

Pasalnya, setelah BI menaikkan suku bunga secara mengejutkan pada 19 Oktober lalu, Rupiah tetap melemah 2 minggu setelahnya.

Program Makan Siang Gratis Wajib Disiplin Fiskal

Rencana belanja anggaran Prabowo untuk berbagai programnya, termasuk makan siang dan susu gratis di sekolah, memicu kekhawatiran yakni akan membebani rupiah.

Belanja besar-besaran bisa mencapai Rp460 triliun setiap tahun untuk program itu melebihi defisit anggaran 2023.

“Banyak yang bilang kebijakan Prabowo akan menguras anggaran. Memang butuh dana besar, tapi tetap dilakukan dalam koridor atau disiplin fiskal. Tidak akan ada tindakan fiskal yang tidak bertanggung jawab,” kata Wibowo.

Lebih lanjut, sambungnya, Prabowo juga berkomitmen untuk memastikan independensi BI dan mendorong koordinasi agar bauran kebijakan moneter selaras dengan ekspansi ekonomi.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper