Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BI Rate Naik Jadi 6,25%, Apindo Teriak Dunia Usaha Kian Terbebani

Apindo merespons keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate ke level 6,25%.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani menyampaikan paparan saat konferensi pers Outlook Ekonomi dan Bisnis Apindo 2024 di Jakarta, Kamis (21/12/2023). JIBI/Bisnis/Arief Hermawan P
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani menyampaikan paparan saat konferensi pers Outlook Ekonomi dan Bisnis Apindo 2024 di Jakarta, Kamis (21/12/2023). JIBI/Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Kebijakan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate ke level 6,25% dinilai tidak ideal bagi pelaku usaha.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani, menyampaikan, naiknya BI Rate berpotensi semakin membebani beban usaha dan perluasan kinerja usaha.

“Kebijakan ini memang tidak ideal bagi pelaku usaha,” kata Shinta dalam keterangan tertulisnya, Rabu (24/4/2024).

Kendati demikian, pelaku usaha berupaya mendukung kebijakan ini. Sebab, kenaikan suku bunga dilihat sebagai upaya pemerintah untuk menciptakan stabilitas nilai tukar secara lebih cepat, khususnya karena pelemahan nilai tukar yang terjadi dua minggu terakhir kian mengkhawatirkan.

Pasca kenaikan BI Rate, pelaku usaha mengharapkan agar nilai tukar dapat menguat dalam waktu dekat. Sedapat mungkin, lanjut Shinta, pemerintah dapat menjaga keterjangkauan pembiayaan, dengan menjaga daya saing dan keterjangkauan suku bunga pinjaman usaha riil dalam negeri.

Selain itu, pengusaha mengharapkan pemerintah untuk menjaga kelancaran arus pendanaan usaha kepada sektor riil, khususnya sektor riil yang terdampak negatif dari kondisi geopolitik dan pelemahan nilai tukar saat ini agar industri-industri tersebut tetap dapat memiliki kinerja yang baik dan tidak semakin memburuk.

Pemerintah juga dinilai perlu memerhatikan kebijakan kenaikan suku bunga menjadi instrumen kebijakan “last resort” dan tidak dilakukan terlalu sering. Pasalnya, suku bunga pinjaman riil di Indonesia saat ini tidak kompetitif dengan negara-negara lain di kawasan. 

Di sisi lain, lanjut Shinta, Indonesia memiliki kebutuhan untuk mendongkrak pertumbuhan hingga ke level 5,2%, sebagaimana tercantum dalam APBN 2024.

Shinta menilai, target tersebut akan sulit dicapai jika suku bunga terlalu tinggi, sedangkan kondisi geopolitik juga turut menekan potensi investasi dan perluasan usaha.

“Jadi sedapat mungkin beban-beban terhadap penciptaan perluasan kinerja usaha, investasi, dan ekspor pada pelaku usaha dalam negeri harus ditingkatkan efisiensinya, bukan ditambah,” ujarnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Ni Luh Anggela
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper