Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Gapki: Ekspor Minyak Sawit RI Bisa Anjlok di Atas 4%

Gapki menyebut ekspor minyak kelapa sawit tahun ini turun di atas 4% disebabkan adanya stagnasi produksi di Indonesia.
Ilustrasi kebun sawit. / Dok. Sinar Mas Agribusiness
Ilustrasi kebun sawit. / Dok. Sinar Mas Agribusiness

Bisnis.com, JAKARTA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memprediksi ekspor minyak kelapa sawit tahun ini turun di atas 4%.

Ketua Umum Gapki, Eddy Martono mengatakan, penurunan ekspor minyak kelapa sawit pada 2024 disebabkan oleh adanya stagnasi produksi di Indonesia. Di sisi lain, permintaan domestik terhadap minyak kelapa sawit terus meningkat. Dia pun menyebut, peningkatan produksi kelapa sawit Indonesia tahun ini paling banter tidak lebih dari 5%.

"Jika mandatori B35 diperpanjang maka kebutuhan domestik Indonesia bisa mencapai 25 juta ton. Dengan demikian, Maka ekspor kelapa sawit di tahun 2024 akan berkurang 4,13% atau hanya sekitar 29 juta ton," ujar Eddy dalam Pakistan Edible Oil Conference, dikutip dalam keterangan resmi, Senin (15/1/2024).

Sementara itu, Ketua Bidang Luar Negeri Gapki, Fadhil Hasan menyatakan, selain program mandatori biodiesel, peningkatan konsumsi domestik Indonesia juga terjadi pada produk oleochemical. Bahkan, sebenarnya penurunan ekspor minyak kelapa sawit Indonesia telah terjadi sejak 2020.

Terutama untuk tujuan ekspor ke China, India, Uni Eropa, Pakistan dan Amerika Serikat. Di sisi lain, Fadhil menyebut produksi kelapa sawit Indonesia telah melandai sejak 2005.

"Periode 2005-2010 terjadi penurunan produksi sebesar 10% , lalu 2010-2015 turun 7,4%, kemudian periode 2015-2020 turun 3,2% dan seterusnya stagnan,” kata Fadhil.

Adapun analis Global Research, Thomas Mielke menjelaskan, penurunan produksi telah berpengaruh signifikan terhadap pasar global di tengah meningkatnya konsumsi dunia. Kendati begitu, dia memandang industri kelapa sawit Indonesia tetap bakal mendominasi pasar minyak nabati global dengan menguasai 32% produksi minyak nabati dunia dan 53% ekspor minyak nabati di pasar global pada 2024.

"Peningkatan produksi kelapa sawit dalam setahun hanya sekitar 1,7 juta ton atau bahkan kurang. Jumlah ini jauh lebih rendah dari biasanya yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir sejak 2020 yakni 2,9 juta ton," jelas Thomas.

Senada, analis Glenuk Economics, Julian Conway Mcgill menyebut produksi rendah, mandatori biodiesel, dan ketersediaan lahan akibat kebijakan moratorium telah berdampak lebih besar terhadap produksi minyak kelapa sawit Indonesia, alih-alih disebabkan oleh isu El Nino.

Adapun Director Godrej International ltd, Dorab Mistry mengatakan kebijakan bioenergi dan Sustainable Aviation fuel (SAF) di berbagai negara juga turut menjadi faktor yang akan mempengaruhi harga pasar minyak kelapa sawit pada 2024.

"Pasalnya hingga kini belum terlihat adanya potensi peningkatan produksi minyak nabati lain dengan kuantitas total yang setara," kata Mistry.

Sebagai informasi, dalam konferensi tersebut, turut menyinggung soal eskalasi geopolitik global yang belum surut menjadi faktor ketidakpastian harga minyak nabati pada 2024. Terutama, dampak dari adanya situasi memanas di Laut Merah dan eskalasi di Laut Hitam dianggap perlu diantisipasi karena berpengaruh terhadap akses logistik dan suplai minyak nabati dunia.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dwi Rachmawati
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper