Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Minyak Global Melesu Gara-gara Arab Saudi Lakukan Ini

Harga minyak global kontrak Maret 2024 melemah -1,26% atau -0,99 poin ke posisi US$77,77 per barel akibat langkah Arab Saudi.
Ilustrasi. Tanki penimbunan minyak./Bloomberg
Ilustrasi. Tanki penimbunan minyak./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak telah mengalami penurunan setelah Arab Saudi memangkas harga jual resmi untuk semua wilayah lantaran prospek yang memburuk, melebihi ketegangan di Laut Merah dan gangguan pasokan di Libya. 

Berdasarkan data Bloomberg, Senin (8/1/2024), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Februari 2024 melemah -1,40% atau -1,03 poin menjadi US$72,78 per barel pada pukul 14.00 WIB. Harga minyak Brent kontrak Maret 2024 juga melemah -1,26% atau -0,99 poin ke posisi US$77,77 per barel.

Harga minyak mentah WTI telah berada di sekitar US$73 per barel dan patokan global Brent telah menurun hingga di bawah US$78 per barel setelah naik 2,2% pada minggu lalu. 

Baru-baru ini, terdapat kabar dari produsen negara Saudi Aramco yang menurunkan harga Arab Light andalannya ke Asia, lebih dari perkiraan sebesar US$2 per barel, di tengah pasar minyak mentah global yang terus melemah. 

Minyak sendiri mengalami penurunan secara tahunan pertama kali sejak 2020, dengan kerugian yang didorong oleh meningkatnya pasokan diluar OPEC+ dan kekhawatiran bahwa pertumbuhan permintaan akan melambat pada 2024, termasuk di negara importir utama China. 

Pada awal 2024, Wall Street juga memperkirakan bahwa minyak mentah akan menghadapi lebih banyak tantangan kedepannya, dengan bank-bank besar telah memangkas proyeksi mereka untuk tahun ini. 

Kepala strategi komoditas di ING Groep NV Warren Patterson mengatakan bahwa gangguan pasokan dan ketegangan di Timur Tengah terus memberikan dukungan. 

“Namun, dengan tidak adanya eskalasi di Timur Tengah, kami menduga kenaikannya terbatas, mengingat keseimbangan yang cukup baik selama paruh pertama tahun 2024,” jelasnya. 

Raksasa kontainer AP Moller-Maersk A/S juga akan terus mengalihkan kapal untuk menjauh dari Laut Merah. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken juga memperingatkan bahwa perang Israel-Hamas dapat meluas menjadi konflik regional yang besar. 

Perusahaan Minyak Nasional Libya, NOC, juga mengatakan force majeure atau keadaan mendesak yang tidak dapat dihindari di ladang minyak Sharara setelah ditutup oleh pengunjuk rasa. Perusahaan tersebut mengatakan bahwa penutupan ladang minyak di negara tersebut telah menghentikan pasokan ke terminal Zawiya. 

Ketegangan di Timur Tengah telah membuat perbedaan harga antara dua kontrak terdekat Brent dalam beberapa hari terakhir. Perbedaannya adalah 22 sen per barel dalam backwardation, sebuah pola bullish, dibandingkan dengan 3 sen pada awal minggu lalu. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper