Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

SKK Migas Dapatkan Pengganti BUMN Rusia, Garap Blok Tuna

Anak usaha Zarubezhneft, ZN Asia Ltd, dipastikan mundur dari blok kaya gas di lepas pantai Natuna Timur.
Blok migas/Ilustrasi
Blok migas/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyebut pengganti perusahaan pelat merah asal Rusia, Zarubezhneft sebagai mitra Premier Oil Tuna BV (Harbour Energy Group) di Blok Tuna sudah mengerecut.

Anak usaha Zarubezhneft, ZN Asia Ltd, dipastikan mundur dari blok kaya gas di lepas pantai Natuna Timur itu seiring adanya sanksi dari negara-negara Barat yang menghambat keberlanjutan pengembangan proyek.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan bahwa saat ini pencarian dari pengganti ZN masih berproses. Saat ini calon penggangi BUMN Rusia tersebut sudah mengerucut ke lima nama.

“Masih proses, ada beberapa data room sekarang kalo gasalah dari sekian banyak sekarang tinggal 5,” kata Tjip sapaan akrabnya saat ditemui di Kementerian ESDM, Kamis (12/10/2023).

Namun, ketika ditanya siapa saja dari kelima nama yang akan menjadi pengganti ZN di Blok Tuna, Tjip menyebut bahwa dirinya tidak hafal.

“Saya gak hafal [lima nama tersebut],” ujarnya.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berharap agar pengganti perusahaan pelat merah asal Rusia, Zarubezhneft sebagai mitra Premier Oil Tuna BV (Harbour Energy Group) di Blok Tuna segera ditentukan. 

Direktur Jenderal (Dirjen) Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji mengatakan bahwa sudah ada calon investor yang berminat menjadi mitra Harbour. 

“Sudah buka data, akan dievaluasi, sudah prosesnya tapi belum ditentukan siapa,” kata Tutuka saat ditemui di Jakarta, Selasa (3/9/2023).

Adapun, Blok Tuna diperkirakan memiliki potensi gas di kisaran 100 hingga 150 million standard cubic feet per day (MMscfd). Investasi pengembangan lapangan hingga tahap operasional ditaksir mencapai US$3,07 miliar atau setara dengan Rp45,4 triliun.

Perkiraan biaya investasi untuk pengembangan Lapangan Tuna terdiri atas investasi (di luar sunk cost) sebesar US$1,05 miliar, investasi terkait biaya operasi sampai dengan economic limit sebesar US$2,02 miliar, dan biaya abandonment and site restoration (ASR) sebesar US$147,59 juta. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Lukman Nur Hakim
Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper