Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Saatnya Industri Tambang Fokus Industrialisasi, Bukan Hanya Hilirisasi

Industri pertambangan sudah seharusnya mulai berfokus melakukan peningkatan nilai tambah ke industri yang menghasilkan produk akhir.
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018)./JIBI-Nurul Hidayat
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018)./JIBI-Nurul Hidayat

Bisnis.com, MANGUPURA—Industri pertambangan sudah saatnya fokus melakukan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah menghasilkan produk akhir bagi konsumen, tidak hanya sebatas berhenti di jargon hilirisasi yang menghasilkan produk antara. 

Industrialisasi mendesak dilakukan karena cadangan komoditas mineral di Indonesia masih sangat besar dan sayang jika berhenti di tahapan pengolahan semata.

The Chairman of the Indonesia Mining Association (IMA) Rachmat Makkasau menekankan program hilirisasi tambang atau pembangunan smelter di Indonesia telah berjalan baik. Pada 2024 dan 2025 nanti, hampir semua smelter sudah akan beroperasi maksimal.

Dengan begitu, bahan baku industri akan berlimpah sehingga industri pertambangan sudah seharusnya dari sekarang mulai berfokus melakukan peningkatan nilai tambah ke industri yang lebih hilir.

“Di sinilah peluang yang harus dimanfaatkan oleh Indonesia dan akan sangat sayang juga hasil atau produk smelter harus diekspor, menjadi bahan baku industri di negara lain,” jelasnya dalam ajang Indonesia Mining Summit 2023 di Nusa Dua, Bali, Selasa (10/10/2023).

Menurutnya, Indonesia beruntung karena memiliki cadangan mineral bervariasi dan bermacam-macam yang pasokannya diperkirakan masih sangat besar.

Dia mencontohkan, meskipun cadangan tembaga di Indonesia hanya sekitar 3-5 persen dari cadangan dunia, pada 2030 nanti, permintaan diperkirakan akan tinggi sehingga cadangan komoditas ini di dunia akan menurun serta hingga kini belum ada pengganti.

Contoh lainnya adalah cadangan nikel Indonesia yang ditaksir 50 persen cadangan dunia. Kondisi tersebut menyebabkan Indonesia akan dibutuhkan oleh dunia untuk memenuhi pasokan kebutuhan. 

Menurutnya, dengan potensi yang besar tersebut, untuk mewujudkan pascahilirisasi harus memastikan eksplorasi sehingga cadangan terjaga. Pemerintah dan industri juga harus membangun ekosistem industri yang konsepnya sebenarnya sudah banyak.

Tidak kalah pentingnya lagi terkait dengan regulasi pendukung serta dipromosikan lebih gencar. Hal terpenting lain adalah bagaimana mulai memperhatikan perihal hilirisasi berkelanjutan seperti penggunaan teknologi ramah lingkungan untuk opsi batu bara.

“Tentunya dengan meningkatnya industri kita butuh power. Industri meningkat sehingga pendapatan akan naik, dan pendapatan ini akan memakai power sehingga ini tidak bisa dikesampingkan," katanya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif mengatakan, Indonesia memiliki potensi mineral dan batu bara yang sangat besar dan berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi serta kemandirian dan ketahanan industri nasional. Peningkatan nilai tambah mineral memiliki peranan yang penting dalam mendukung transisi energi di Indonesia.

Untuk itu, pemerintah telah memiliki rencana hilirisasi mineral dan peningkatan nilai batu bara ke depan. Didukung besarnya potensi mineral dan batu bara, maupun tersedianya peluang pasar yang terbuka luas, serta kepastian kebijakan dan regulasi, pemerintah mendorong para pelaku usaha untuk dapat berinvestasi pada hilirisasi mineral dan batubara. 

Wakil Komisi VII DPR RI Maman Abdurahman menegaskan di Undang-Undang Minerba sudah mewajibkan penambang untuk melakukan upaya hilirisasi. Namun, pemerintah juga punya kewajiban untuk memperhatikan ekosistem dari praktik hilirisasi tersebut.

Salah satu yang wajib diperhatikan pemerintah adalah nilai keekonomian dan pasar dari produk akhir bagi konsumen. Untuk itu, penting bagi pemerintah untuk bagaimana mewujudkan hasil dari hilirisasi.

“Untuk apa punya segala macam itu kalau pabrik jarum peniti saja tidak punya. Pertanyaan sederhana itu harus jadi bahan diskusi kita. Kita tekan semua bangun pabrik alumunium, tapi bagaimana  harus bisa bangun pabrik peniti dan lain-lain yang sekarang banyak di luar negeri,” jelasnya.

Halaman
  1. 1
  2. 2

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper