Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Indonesia Bersiap Jadi Anggota OECD, Menko Airlangga Beberkan Keuntungannya

Airlangga bertemu dengan Sekjen OECD Mathias Cormann dan mengatakan bahwa Indonesia bersiap-siap mempelajari untuk masuk jadi anggota OECD.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai Rapat Kerja bersama Badan Anggaran (Banggar) di Kompleks Parlemen, Jumat (9/6/2023)/Bisnis - Annasa Rizki Kamalina
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai Rapat Kerja bersama Badan Anggaran (Banggar) di Kompleks Parlemen, Jumat (9/6/2023)/Bisnis - Annasa Rizki Kamalina

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa Indonesia saat ini tengah bersiap menjadi anggota Organization for Economic Cooperation and Development (OECD).

“Untuk mempersiapkan segalanya ini, Indonesia sudah berbicara dengan OECD, saya sudah berbicara dengan Sekretaris Jenderal OECD Mathias Cormann, dan kita mengatakan bahwa Indonesia bersiap-siap mempelajari untuk masuk jadi anggota OECD,” katanya dalam Indonesia Data and Economic Conference, Kamis (20/7/2023). 

Airlangga mengatakan, Indonesia telah menjadi key partner OECD sejak 2007. Indonesia nantinya akan menjadi negara ketiga di Asia yang bergabung dengan OECD, setelah Jepang dan Korea Selatan.

Rencana tersebut, imbuhnya, juga sebagai upaya Indonesia untuk menjadi negara maju berpendapatan tinggi pada 2045.

Dia menjelaskan, keanggotaan Indonesia di OECD menjadi penting untuk mencapai visi tersebut karena OECD akan menerapkan standar yang tinggi dalam seluruh proses legislasi di negara anggotanya.

Penerapan standar ini termasuk dalam proses pembentukan perundangan hingga jenis dari regulasi dan standar yang diterapkan pada kementerian dan lembaga (K/L).

“Mengapa Indonesia pantas masuk OECD? Karena pasca pandemi Covid-19 Indonesia kembali masuk ke kelompok upper middle income country dan dinilai sukses memimpin KTT G20 dan Indonesia hari ini menjadi leader di Asean,” tuturnya.

Airlangga juga menyampaikan bahwa pemerintah saat ini tengah berfokus mendorong manfaat dari bonus demografi, yang mana window of opportunity menurutnya terbatas hanya sampai pada 2035-2040 mendatang. 

“Untuk memaksimalkan peluang tersebut, generasi muda perlu disiapkan dengan baik agar mampu relevan dengan kebutuhan industri atau didorong untuk berwirausaha dan menciptakan lapangan kerja, termasuk meningkatkan skill digital,” kata dia.

Dalam rangka mencapai visi menjadi negara maju, pemerintah pun berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi ke kisaran 6-7 persen dan pertumbuhan investasi sebesar 6,8 persen.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Maria Elena
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper