Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pupuk Kaltim (PKT) Segera Mulai Pembangunan Pabrik Pupuk US$1 Miliar di Papua Barat

PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) segera memulai pembangunan pabrik pupuk di kawasan industri Fakfak, Papua Barat dengan nilai investasi lebih dari US$1 miliar.
Suasana Pabrik Pupuk Kaltim 5. PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) segera memulai pembangunan pabrik pupuk di kawasan industri Fakfak, Papua Barat dengan nilai investasi lebih dari US$1 miliar./JIBI-Istimewa
Suasana Pabrik Pupuk Kaltim 5. PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) segera memulai pembangunan pabrik pupuk di kawasan industri Fakfak, Papua Barat dengan nilai investasi lebih dari US$1 miliar./JIBI-Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) bersiap memulai pembangunan Proyek Strategis Negara (PSN) berupa pabrik  pupuk baru di kawasan industri Fakfak, Papua Barat dengan nilai investasi lebih dari US$1 miliar.

PKT memastikan proyek pembangunan kawasan industri pupuk di Fakfak Papua Barat ini nantinya akan memiliki kapasitas produksi pupuk urea sebesar 1,15 juta ton per tahun dan 825.000 ton per tahun untuk amonia.

Direktur Utama PKT, Rahmad Pribadi menuturkan hal itu merupakan salah satu pengembangan di fase kedua pertumbuhan PKT, yang ditarget mampu terealisasi dalam lima tahun ke depan. Momentum yang sangat tepat, menurutnya, mengingat pada 2030 kebutuhan urea diperkirakan akan mencapai 6 sampai 7 juta ton.

“Dan dengan beroperasinya pabrik baru ini nanti, PKT siap mendukung ketahanan pangan bagi Indonesia dengan penyediaan 4,5 hingga 5 juta ton atau pemenuhan sekitar 70 hingga 80 persen kebutuhan nasional,” ujar Rahmad dalam siaran pers, Jumat (15/7/2023).

Dia mengungakapkan royek yang merupakan salah satu rencana strategis PKT untuk terus menyesuaikan performa produksi dengan kebutuhan pasar yang semakin meningkat ini akan segera memasuki masa awal pembangunan.

Rahmad mengatakan, PKT pun sangat berbangga karena pada Jumat (14/7/2023), Wakil Presiden RI, K.H Ma’ruf Amin hadir langsung di kawasan industri Fakfak untuk meninjau langsung area yang nantinya akan menjadi lokasi pembangunan pabrik baru PKT didampingi Menteri Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia.

Kehadiran keduanya ini tentu merupakan bukti restu serta komitmen nyata pemerintah untuk mendukung dimulainya PSN Pabrik Fakfak, Papua Barat.

Saat ini, ujar Rahmad, proses pembangunan pabrik PKT memang masih dalam tahap yang sangat awal. Meski begitu, PKT sudah mengamankan beberapa infrastruktur terkait dimulainya proyek ini. Salah satunya untuk pasokan gas yang sudah dipastikan akan didapat dari Genting Oil Kasuri Pte.Ltd (GOKPL).

Sumber gas yang dipasok untuk proyek pembangunan ini akan diambil dari sumber gas yang telah disepakati yakni Lapangan Asap, Merah dan Kido (AMK) di Kasuri, Papua Barat.

“Jika semuanya berjalan dengan lancar, maka pembangunan pabrik ini akan mengantarkan industri pupuk nasional kita menjadi yang terbesar di Asia Pasifik. Ini juga yang menjadi cita-cita PKT sebagai penyokong ketahanan pangan nasional sekaligus mengharumkan nama Indonesia di kancah global,” ujar Rahmad Pribadi.

Tak hanya itu, dia mengungkapkan bahwa kehadiran pabrik baru PKT ini nantinya diproyeksikan akan memberi kontribusi positif pada pendapatan negara. Potensi pendapatan negara dari pajak penghasilan perorangan senilai diperkirakan akan mencapai Rp20 miliar per tahun. Dan potensi kontribusi pertumbuhan ekonomi domestik melalui porsi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di proyek ini mencapai nilai Rp 10 triliun. Potensi pendapatan daerah pun diprediksikan akan menyumbang senilai Rp 15 miliar per tahun.

“Ini yang kami sebut dengan multiplier effect. Karena semangat kami di PKT tentu tidak semata-mata hanya untuk profit belaka, tapi juga bagaimana segala inovasi dan aktivitas kami bisa memberikan keberkahan bagi masyarakat. Selama durasi pembangunan proyek, kami memperkirakan penyerapan tenaga kerja 10.000 orang saat masa puncak konstruksi dan sebanyak 400 orang saat operasional,” tandas Rahmad.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Indra Gunawan
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper