Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BASF dan Eramet Kantongi Izin Investasi Baterai Listrik Rp38,54 Triliun

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia memastikan BASF dan Eramet segera mengantongi izin investasi baterai listrik senilai Rp38,54 triliun.
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia saat wawancara dengan Bisnis Indonesia di Jakarta, Selasa (25/10/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia saat wawancara dengan Bisnis Indonesia di Jakarta, Selasa (25/10/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Investasi Bahlil Lahadalia memastikan sejumlah isu perizinan untuk komitmen investasi awal pembangunan pabrik bahan baku baterai listrik dari duet perusahaan eropa, BASF dan Eramet, mendekati rampung pada awal tahun ini.

Bahlil mengatakan komitmen investasi perusahaan asal Jerman dan Prancis dengan nilai mencapai US$2,6 miliar setara dengan Rp38,54 triliun (asumsi kurs Rp14.825 per US$) itu dapat direalisasikan pada awal semester kedua 2023. 

“Mereka tadi sudah lapor ke presiden, semester kedua awal ini sudah bisa berjalan. Proses perizinan juga sudah hampir rampung semuanya saya pikir ini isu sudah done,” kata Bahlil saat keterangan pers terkait hasil kunjungan kerja presiden dikutip dari Kanal Youtube Sekretariat Presiden, Selasa (18/4/2023). 

Kesanggupan itu disampaikan BASF sebelumnya saat bertemu dengan Jokowi di sela-sela kegiatan Hannover Messe di Hotel Kastens Luisenhoff, Hannover, Jerman, Minggu (16/4/2023) waktu setempat. 

Rencanannya, BASF bersama dengan perusahaan tambang sekaligus metalurgi multinasional Prancis, Eramet bakal membangun pabrik bahan baku baterai listrik hingga tahap prekursor pada awal semester kedua tahun ini. Lokasi pabrik bahan baku baterai itu bakal terletak di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara. 

Bahlil mengatakan kedua perusahaan itu sudah berkomitmen untuk membangun pabrik bahan baku baterai berbasis pada sumber energi terbarukan dan industri hijau. Komitmen itu diharapkan dapat menjaga keberlanjutan rantai pasok ekosistem baterai listrik di Indonesia ke depan. 

“Mereka akan fokus ke green energy dan green industry, jadi lingkungan tetap kita perhatikan bersama,” tuturnya. 

Selain itu, Jokowi juga mendapat komitmen investasi dari pabrikan Eropa lainnya yakni Volkswagen melalui pabrikan baterai setrumnya PowerCo.

Rencanannya PowerCo bakal berinvestasi dengan menggandeng PT Vale Indonesia (INCO), produsen mobil Amerika Serikat Ford Motor Co serta Zhejiang Huayou Cobalt dari China untuk membangun ekosistem baterai setrum di Sulawesi Selatan.

Selain itu, PowerCo juga bakal berinvestasi dengan portofolio lainnya bersama dengan Eramet dan Kalla Group untuk pengembangan ekosistem baterai listrik tersebut.

Selanjutnya, PowerCo akan ikut bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Merdeka Copper (MDKA) untuk penghiliran bijih nikel menjadi baterai listrik nantinya.

“Tiga-tiganya kita dorong dalam rangka kita antisipasi perang dagang antara beberapa negara besar, presiden arahkan kita untuk layani investasi yang sama kita harus anut ekonomi bebas aktif tidak membedakan negara mana yang harus prioritas semuanya sama,” kata Bahlil.

Malahan, dia menambahkan, perusahaan Inggris lebih dahulu menyatakan minat mereka untuk masuk pada sisi penghiliran bijih nikel menjadi baterai setrum lewat Envision Group bekerja sama dengan Glencore.

“Inggris sudah masuk duluan, mereka melakukan kerja sama dengan BUMN lewat perusahaan Envision dan kerja sama dengan Glencore,” kata dia.

Secara keseluruhan, Jokowi berhasil menghimpun investasi segar mencapai US$4,6 miliar atau setara dengan Rp68,19 triliun (asumsi kurs Rp14.825 per US$) untuk pembangunan ekosistem baterai listrik di Indonesia selepas lawatannya ke Jerman dalam rangka membuka kegiatan Hannover Messe 2023, Senin (17/4/2023). Komitmen investasi itu sudah masuk dalam rekapitulasi otoritas penanaman modal awal tahun ini.

Di sisi lain sebelumnya, Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, mengatakan dua konsorsium mitra Indonesia Battery Corporation (IBC), Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co, Ltd. (CBL) dan LG Energy Solution (LG) masih bimbang untuk melanjutkan komitmen investasi penghiliran bijih nikel hingga baterai listrik di Indonesia.

Hal itu diungkapkan Moeldoko seiring dengan implementasi Undang-Undang (UU) Penurunan Inflasi atau Inflation Reduction Act (IRA) yang diterbitkan pemerintah Amerika Serikat pada pertengahan tahun lalu.

Selain itu, konsorsium CBL diketahui masih berdiskusi intensif dengan PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) untuk mendapat hak eksklusif pengelolaan konsesi Antam di wilayah izin usaha pertambangan (IUP) Halmahera Timur, Maluku Utara.

“Yang jelas LG sudah investasi besar di Amerika Serikat, yang [investasi] ke Indonesia melalui IBC itu dua-duanya masih bimbang,” kata Moeldoko saat ditemui di Waingapu, Rabu (12/4/2023).


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper