Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

THR Jadi Biang Kerok Inflasi Periode Ramadan dan Idulfitri

Pada tahun ini masyarakat diperkirakan masih akan berbelanja, tetapi akan beralih ke barang yang lebih murah.
Pedagang merapikan dagangannya di salah satu pasar tradisional di Bogor, Jawa Barat, Senin (21/11). /Bisnis-Abdurachman
Pedagang merapikan dagangannya di salah satu pasar tradisional di Bogor, Jawa Barat, Senin (21/11). /Bisnis-Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA — Head of Research DBS Group Maynard Arif mengingatkan dampak tunjangan hari raya (THR) yang meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekaligus mendorong laju inflasi secara cepat.

Menurutnya, sudah menjadi tradisi setiap kuartalan yang bertepatan pada Ramadhan dan Lebaran, inflasi mengalami kenaikan. 

"THR tentu sangat mempengaruhi minat berbelanja seseorang. Namun, dengan tingkat inflasi yang tinggi konsumen akan membeli yang lebih murah, mereka tidak akan berhenti berbelanja hanya memilih mana yang lebih terjangkau," tutur Maynard di Gedung Bank DBS, Capital Place, Jakarta Selatan, Selasa (28/3/2023).

Maynard menjelaskan dampak inflasi tidak mengubah tingkah laku masyarakat hanya beralih dengan harga yang lebih terjangkau dan berhati-hati karena konsumen menilai dampak inflasi masih berpengaruh jangka panjang.

"Inflasi ini juga memberikan dampak yang berbeda untuk kalangan menengah ke bawah juga keatas, bahkan inflasi Ini masih berlanjut sampai 6 bulan ke depan," lanjutnya.

Maynard mengatakan situasi pandemi mulai pulih diikuti pembatasan cenderung berkurang sehingga pergerakan akan lebih baik. 

"Saat ini fokus masyarakat tidak lagi pada pandemi tapi inflasi, khususnya pada Ramadan dan Lebaran karena kebutuhan pokok menjadi lebih tinggi," ujarnya. 

Dia menilai bahkan kenaikan harga cabe lebih membuat masyarakat khawatir dari pada pandemi Covid-19.

Senior ekonom DBS Bank Radhika Rao menilai kuartal II/2023 kuat secara musiman, terutama untuk tren konsumsi. 

"Kami menghitung pertumbuhan PDB rata-rata kuartal ke kuartal selama sembilan tahun hingga 2019. Konsumsi diperkirakan akan tumbuh 4,8-5,3 persen kuartal-ke-kuartal di 2Q23," pungkasnya.

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam Economic Outlook, Interim Report March 2023, memperkirakan inflasi Indonesia pada tahun ini mencapai 4,1%.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan target Bank Indonesia (BI) di kisaran 3% dan asumsi dasar ekonomi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023 sebesar 3,6%.

Menurut OECD, secara umum inflasi memang relatif bisa dikendalikan seiring dengan berbagai kebijakan yang ditempuh pemerintah. Namun, kewaspadaan masih perlu dikedepankan.

Salah satunya dengan tetap menjaga pergerakan harga energi dan pangan serta memperkuat dukungan fiskal terutama untuk kelompok rumah tangga.

“Inflasi utama diproyeksikan menurun pada 2023. Meski begitu, inflasi tetap jauh di atas target hingga tahun depan,” tulis laporan OECD yang dikutip Bisnis, Senin (20/3/2023).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper