Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pasar Perkantoran Jakarta Lesu, Investor Asing Tetap Minat Investasi

Tingkat hunian diproyeksi masih akan menurun pada 2023 akibat tingginya jumlah pasokan ruang baru atau oversupply.
Pemandangan gedung bertingkat di Jakarta. Bisnis/Arief Hermawan P
Pemandangan gedung bertingkat di Jakarta. Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Kondisi sektor perkantoran di Jakarta saat ini masih tertekan imbas pandemi Covid-19 dan oversupply ruang kantor usai rampungnya sejumlah proyek baru.

Meski kondisi pasar perkantoran belum stabil, baru-baru ini perusahaan real estat asal Jepang yaitu Hankyu Hanshin Properties (HHP) dan Japan Overseas Infrastructure Investment Corporation for Transport & Urban Development (JOIN) memutuskan untuk berinvestasi pada gedung perkantoran milik Sinar Mas Land melalui PT Duta Cakra Pesona (DCP).

Adapun, dua pengembang asal negeri sakura tersebut membidik investasi pada 3 gedung perkantoran pertama yakni Sinarmas MSIG Tower, Bakrie Tower, dan Luminary Tower (under construction) yang seluruhnya berlokasi di Jakarta CBD Area.

Senior Director Office Services Colliers, Bagus Adikusumo, melihat kondisi tersebut didorong oleh kepercayaan investor asing terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat.

"Investor Jepang itu melihat ekonomi Indonesia ke depan itu bagus, menjanjikan, potensial, dan memang sekarang lagi berat tapi ini jadi opportunity buat investor asing," kata Bagus kepada Bisnis, Jumat (3/2/2023).

Sebagaimana diketahui, pemerintah memproyeksi pertumbuhan ekonomi nasional pada 2023 sebesar 5,3 persen. Sementara, International Monetary Fund (IMF) baru-baru ini merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5 persen menjadi 4,8 persen pada 2023.

Menurut Bagus, dengan proyeksi pertumbuhan yang masih kuat, terlebih rating internasional seperti McKinsey menyebutkan Indonesia akan menjadi Top 7 Global Economy pada 2030, maka kondisi tersebut akan mendorong permintaan kantor dan hal ini yang dilihat oleh investor asing.

"Korelasinya [pertumbuhan ekonomi] dengan permintaan kantor itu tinggi. Kalau pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen maka permintaan terhadap perkantoran itu otomatis akan tumbuh bisa sampai 200.000-300.000 meter persegi," ujarnya.

Berdasarkan catatan Colliers, tingkat hunian kantor di CBD mencapai 74,7 persen. Pihaknya memprediksi tingkat hunian masih akan menurun pada 2023 akibat tingginya jumlah pasokan ruang baru.

"Investor Jepang itu mereka long term investment, mereka bicara untuk investasi di Indonesia itu nggak short term, mereka mau 10-15 tahun atau bahkan 20 tahun," jelasnya.

Di sisi lain, Bagus melihat Hankyu Hanshin Properties memilih gedung perkantoran yang memang merupakan completed building serta tingkat keterisian yang mumpuni, meski tidak penuh total.

"Mungkin okupansi gedungnya tidak penuh, tapi paling tidak pada saat di investasi, itu langsung ada hasilnya karena memang ada penyewanya, ada dividen nya yang diterima tiap tahun," tandasnya.

Dengan kerja sama dan kehadiran investor asing di sektor perkantoran, Bagus menyampaikan ada potensi baik yang akan menggerakkan kinerja penjualan ruang kantor. Hal ini lantaran akan ada transfer pengetahuan yang mempengaruhi cara kerja di Indonesia.

"Otomatis combine effort itu bisa membuat kinerja perkantoran paling tidak dari segi operasional lebih baik dari tahun lalu," terangnya.

Diberitakan sebelumnya, Hankyu menilai ketiga properti tersebut memiliki lokasi strategis di ruas jalan utama kota Jakarta yang merupakan salah satu kota terkemuka di Asia Tenggara.

Terlebih, posisinya pun dekat dengan stasiun MRT (Jalur Utara - Selatan) dan Light Rail Transit (LRT) Jakarta. Properti tersebut juga merupakan gedung-gedung perkantoran kelas atas dengan spesifikasi tinggi, di mana Luminary Tower termasuk kategori Gedung Kelas P (Premium) dan MSIG Tower serta Bakrie Tower termasuk kategori Gedung Kelas A.

Pihaknya telah menyepakati untuk mengoperasikan dan mengelola gedung-gedung tersebut bersama dengan BSDE dengan menugaskan salah satu direktur untuk terlibat secara aktif dalam operasional bisnis tersebut.

Melalui skema ini, pihaknya akan memiliki sebagian dari properti dan terlibat dalam pengoperasian dan pengelolaan gedung perkantoran di Indonesia. Investor asal Jepang tersebut telah bersepakat untuk secara bersama-sama memiliki 25 persen saham DCP dan sisanya dimiliki oleh BSDE.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper