Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Februari, BI Diprediksi Kerek Suku Bunga Lagi

Bank Indonesia diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada Februari 2023 menjadi 6 persen.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan pemaparan dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Jakarta, Kamis (19/1/2023). Bank Indonesia diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada Februari 2023 menjadi 6 persen. Bisnis/Himawan L Nugraha
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan pemaparan dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Jakarta, Kamis (19/1/2023). Bank Indonesia diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada Februari 2023 menjadi 6 persen. Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) diperkirakan masih melanjutkan langkahnya untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) pada Februari 2023, meneruskan keputusan pada Januari.

Pada Januari 2023, BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps. Keputusan kenaikan suku bunga merupakan langkah lanjutan untuk secara front loaded, pre-emptive, dan forward looking, memastikan terus berlanjutnya penurunan ekspektasi inflasi, dan inflasi ke depan. 

Senior Economist DBS Group Research Radhika Rao memperkirakan Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada Februari 2023 menjadi 6 persen. Kebijakan itu dilakukan menyusul kenaikan 25 bps pada bulan sebelumnya. 

“Kondisi likuiditas di dalam negeri kemungkinan tetap kondusif untuk BI mempertahankan sikap pro-pertumbuhan,” katanya dalam keterangan resmi yang dikutip Bisnis, Minggu (29/1/2023).

Radhika menyampaikan bahwa pembuat kebijakan Indonesia mendapatkan kepercayaan diri karena inflasi domestik yang telah mencapai puncaknya. Kondisi itu terjadi bersamaan dengan meredanya gejolak di pasar keuangan global karena kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) yang lebih kecil.

Tingkat inflasi Indonesia pada Desember 2022 tercatat sebesar 5,5 persen secara tahunan, melewati target BI sebesar 2 persen hingga 4 persen. Sementara  itu, inflasi inti terjaga sebesar 3,36 persen secara tahunan.

Radhika berpendapat, dengan inflasi yang telah melewati puncaknya dan bank sentral AS yang diperkirakan menghentikan siklus kenaikan suku bunganya pada tahun ini, Indonesia tidak lagi berada dalam keadaan mendesak untuk menaikkan suku bunga secara agresif. 

Selain itu, dia mengatakan prioritas lain bank sentral saat ini adalah menarik likuiditas mata uang asing (valuta asing/valas) kembali ke pasar keuangan dalam negeri. 

Sekadar informasi, pada Desember 2022 lalu, BI mengenalkan instrumen moneter valas baru untuk menarik devisa hasil ekspor ke pasar dalam negeri dengan menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif.

Selain meningkatkan ketersediaan mata uang asing domestik, arus masuk devisa hasil ekspor akan mendukung stabilitas rupiah.

Pada Januari 2023, BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan bahwa keputusan kenaikan suku bunga pada Januari 2023 merupakan langkah lanjutan untuk secara front loaded, pre-emptive, dan forward looking, memastikan terus berlanjutnya penurunan ekspektasi inflasi dan inflasi ke depan. 

Perry mengatakan, kenaikan suku bunga sebesar 225 bps sejak Agustus 2022 memadai untuk memastikan inflasi inti tetap berada dalam kisaran 2–4 persen pada semester I/2023 dan inflasi umum kembali ke dalam sasaran 2 persen –4 persen pada semester II/2023.

Sementara itu, pada kesempatan yang berbeda, ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memperkirakan suku bunga acuan BI akan berada pada level 5,75 persen sepanjang 2023. Artinya, menurut dia BI akan menyetop kenaikan suku bunga acuan lebih lanjut.

Namun demikian, Faisal menilai bahwa BI akan tetap mewaspadai perkembangan ekonomi global ke depan yang masih penuh dengan ketidakpastian.

Di sisi inflasi, dia mengatakan bahwa inflasi domestik akan tetap berada di atas sasaran BI setidaknya hingga semester I/2023, sebagai dampak putaran kedua penyesuaian harga BBM terhadap barang dan jasa lainnya dan akibat low based effect pada semester I/2022.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Maria Elena
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper