Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ekspor Lesu, Gapkindo Ingin Karet Alam Dipakai Buat Ngaspal IKN

Berdasarkan data Gapkindo, ekspor karet pada 2022 mencapai 2,07 juta ton atau turun 13,03 persen dibandingkan realisasi pada 2021 yang mencapai 2,38 juta ton.
Buruh mengumpulkan hasil sadapan getah karet ke atas truk di perkebunan karet Pasir Ucing, Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (1/2/2021). Bisnis/Rachman
Buruh mengumpulkan hasil sadapan getah karet ke atas truk di perkebunan karet Pasir Ucing, Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (1/2/2021). Bisnis/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) berharap pemerintah segera mengambil langkah strategis untuk meningkatkan penyerapan komoditas karet dalam negeri oleh industri nasional. Salah satu contohnya dengan mendorong pemanfaatan karet alam sebagai bahan aspal untuk pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

Penyerapan karet dalam negeri perlu didorong seiring lesunya ekspor karet pada 2022 akibat krisis ekonomi dunia. Berdasarkan data Gapkindo, ekspor karet pada 2022 hanya mencapai 2,07 juta ton atau turun 13,03 persen dibandingkan realisasi pada 2021 yang mencapai 2,38 juta ton. 

Direktur Eksekutif Gapkindo Erwin Tunas berharap mengatakan, penurunan ekspor karet sangat dirasakan sejak perang Rusia-Ukraina berkecamuk pada awal 2022. Hal ini, kata dia, mengakibatkan negara-negara dunia seperti Eropa dan Amerika Serikat menghadapi inflasi dan menurunkan permintaan karet sebagai bahan industri ban kendaraan bermotor.

Dengan inflasi yang tinggi, kata Erwin, orang-orang akan lebih memilih menggunakan uangnya untuk keperluan primer seperti sandang, dibandingkan mengganti mobil.

“Kita tahu memang bahwa karet bukan consumer good seperti sawit. Istilahnya, di manapun orang pasti butuh gorengan. Sekarang kan konsumsi sawit itu 70 persen oleh industri ban. Mereka mengurangi pembelian mobil, otomatis menurun semua permintaannya,” ujar Erwin kepada Bisnis, Rabu (18/1/2023).

Dia pun berharap pemerintah segera mengambil langkah strategis agar karet bisa lebih banyak terserap oleh industri selain ban kendaraan. Sebab, dari rata-rata produksi karet Indonesia sebesar 2,9 juta ton, penyerapan karet oleh industri ban hanya sebesar 600.000 ton. Alhasil, sisanya harus diekspor.

Belum lagi, lanjut Erwin, industri ban dalam negeri pun pada ujung-ujungnya mengekspor produknya ke luar negeri.

Oleh karena itu, pelaku industri karet pun sangat berharap wacana pembangunan jalan dengan aspal karet bisa segera direalisasikan.

“Jadi kita tergantung pada ekspor terhadap industri hilirnya. Mudah-mudahan program-program pemerintah meningkatkan TKDN membuat konsumsi karet meningkat. Mudah-mudahan juga karet alam ini digunakan untuk aspal karet, misalnya pembangunan untuk IKN. Ini akan membantu konsumsi dalam negerinya,” tutur Erwin.

Diversifikasi penggunaan karet ini, menurut Erwin, juga akan kembali membangkitkan petani karet untuk berproduksi. Sebab, dengan anjloknya harga karet yang tidak lebih dari Rp9.000 per kilogram (kg), petani tidak lagi termotivasi menggeluti karet.

“Disamping itu produksi juga turun. Karena mungkin penghasilan yang lebih baik bagi petani. Mungkin ada yang beralih ke perkebunan yang lain,” kata Erwin.

Melansir Tradingeconomics pada Rabu (18/1/2023), harga karet dunia anjlok 20,65 persen menjadi US$143,20 cent per kg. Sementara itu, menurut catatan BPS pada HS 40, yaitu karet dan barang dari karet ekspornya anjlok dibanding pada 2021 menjadi sebesar US$0,72 miliar atau turun sebesar 10,13 persen. Jika dilihat secara volume, penurunannya sebesar 11,60 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper