Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gapkindo: 2 Faktor Ini Bisa Bikin Industri Ban Dunia Beralih Beli Karet dari Negara Lain

permintaan karet Indonesia, termasuk asal Sumatra Utara, biasanya meningkat tiap pertengahan tahun. Pada umumnya, kalangan industri ban dunia akan menambah stok pada masa tersebut.
Nanda Fahriza Batubara
Nanda Fahriza Batubara - Bisnis.com 11 Juli 2022  |  15:02 WIB
Gapkindo: 2 Faktor Ini Bisa Bikin Industri Ban Dunia Beralih Beli Karet dari Negara Lain
Petani menyadap karet di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (29/9/2020). ANTARA FOTO - Nova Wahyudi
Bagikan

Bisnis.com, MEDAN - Sekretaris Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatra Utara Edy Irwansyah mengingatkan potensi buruk yang akan melanda kinerja ekspor karet Sumatra Utara pada Semester 2/2022.

Menurut Edy, permintaan karet Indonesia, termasuk asal Sumatra Utara, biasanya meningkat tiap pertengahan tahun. Pada umumnya, kalangan industri ban dunia akan menambah stok pada masa tersebut.

Namun karena faktor tertentu, kebiasaan ini berpotensi berubah. Faktor yang dimaksud adalah harga dan produktivitas. Untuk dua hal itu, kinerja Indonesia masih di bawah Thailand.

"Akhir semester satu atau awal semester dua biasanya akan ada peningkatan permintaan dari pabrik ban untuk menambah stok. Permintaan ini mungkin saja dialihkan ke negara produsen lainnya yang lebih menguntungkan, baik dari sisi produksi maupun harga," kata Edy melalui keterangan tertulis Senin (11/7/2022).

Saat ini, harga karet jenis Technical Speciefied Rubber 20 (TSR20) di bursa berjangka Singapura

Harga karet rata-rata untuk TSR20 pada Juni 2022 FOB Singapura senilai US$1,639 per kilogram. Harganya naik 2,06 sen USD dibandingkan harga rata-rata pada bulan sebelumnya. Pada penutupan Jumat (8/7/2022) lalu, harganya dipatok US$1,605.

"Harga ini tergolong rendah dan masih jauh dari level renumerative untuk petani karet, yakni US$2,5 per kilogram," kata Edy.

Pada Juni 2022, volume ekspor karet Sumatra Utara tercatat sebanyak 36.734 ton. Jumlah ini meningkat 41 persen dari Mei 2022 yang tercatat 26.051 ton.

Menurut Edy, peningkatan ekspor pada Juni 2022 didongkrak oleh permintaan pabrik ban mancanegara. Umumnya, perusahaan akan mengimpor karet impor tiap pergantian semester untuk cadangan atau stok.

"Adanya peningkatan ini di antaranya disebabkan peningkatan permintaan dari pabrik ban. Permintaan di akhir Semester 1/2022 biasanya untuk menjaga stok," kata Edy.

Faktor lain yang turut mendongkrak kinerja ekspor karet Sumatra Utara pada Juni 2022 adalah pergeseran delay shipment. Pengiriman karet yang mengalami penundaan ekspor dialihkan ke bulan tersebut.

Sementara itu, 342,72 ton karet ekspor dalam 17 unit kontainer hingga kini masih ikut ditahan dalam kapal feeder Mathu Bhum sejak 4 Mei 2022.

"Permintaan di akhir semester satu biasanya untuk menjaga stok. Selain itu akibat adanya delay shipment pada Mei digeser ke Juni. Pada bulan Juli juga masih ada delay shipment," kata Edy.

Berdasar catatan Gapkindo, total volume ekspor karet Sumatra Utara berjumlah 189.605 ton pada Semester 1/2022. Angkanya meningkat 1,24 persen secara year on year (you) atau dibanding Semester 1/2021 lalu.

"Melihat perkembangan ini, ada potensi volume ekspor Semester 2/2022 juga membaik," kata Edy.

Pada Juni 2022, terdapat 31 negara tujuan ekspor karet Sumatra Utara. Rusia, yang sempat masuk dalam daftar, hingga kini belum kunjung kembali mengimpor karet dari Sumatra Utara.

Adapun lima negara tujuan ekspor utama karet Sumatra Utara pada Juni 2022 lalu adalah Jepang sebanyak 26,46 persen, disusul Brazil sebanyak 11,21 persen, lalu Amerika Serikat sebanyak 9,77 persen, kemudian Turki sebanyak 7,79 persen dan China sebanyak 7,63 persen.

"Di mana Rusia belum juga termasuk di dalamnya," kata Edy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor karet gapkindo karet
Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top