Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Inflasi Swedia Sentuh 12,3 Persen, Tertinggi Sejak 1991

Lonjakan inflasi Swedia semakin meningkatkan ekspektasi bahwa bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga utamanya sebesar 50 basis poin bulan depan.
Poster yang meminta warga untuk saling menjaga kesehatan dan menjaga jarak dengan orang lain dipasang di tiang lampu di Stockholm, Swedia, Rabu (11/11/2020)./Bloomberg-Mikael Sjoberg
Poster yang meminta warga untuk saling menjaga kesehatan dan menjaga jarak dengan orang lain dipasang di tiang lampu di Stockholm, Swedia, Rabu (11/11/2020)./Bloomberg-Mikael Sjoberg

Bisnis.com, JAKARTA - Tingkat inflasi Swedia mencapai level tertingginya sejak tahun 1991 pada bulan Desember 2022 meskipun bank sentral telah mengerahkan segala upaya untuk menekan harga.

Dilansir dari Bloomberg pada Jumat (13/1/2023), Badan statistik Swedia menunjukkan tingkat inflasi dengan suku bunga tetap atau CPIF, yang menjadi patokan bank sentral Swedia (Riksbank), naik 10,2 persen year-on-year (yoy) pada Desember

Angka ini melampaui proyeksi ekonom sebesar 9,8 persen dan Riksbank sebesar 9,1 persen.

Sementara itu, indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) Swedia naik 12,3 persen pada Desember 2022, melampaui kenaikan 11,5 persen pada November.

Data tersebut semakin meningkatkan ekspektasi bahwa bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga utamanya sebesar 50 basis poin bulan depan.

Ekonom senior Swedbank AB Knut Hallberg mengatakan kenaikan 50 basis poin sekarang tampaknya menjadi kesepakatan yang dilakukan,

"Kemungkinan kenaikan seperempat poin tambahan pada bulan April telah meningkat," lanjutnya.

Meskipun inflasi di AS dan Eropa masih melandai, Swedia masih mengalami kenaikan harga yang mencekik, bahkan mencapai level tertinggi sejak 1991. Bank sentral Swedia memperikakan bahwa inflasi akan mencapai puncaknya dalam beberapa bulan mendatang, sebelum memulai penurunan bertahap menuju target 2 persen.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Riksbank telah menaikkan suku bunga acuannya menjadi 2,5 persen dari nol sejak April tahun lalu, yang telah berkontribusi pada kemerosotan pasar perumahan yang paling parah sejak awal 1990-an.

Karena biaya cicilan KPR dan listrik melonjak, kenaikan suku bunga juga telah memicu ekspektasi bahwa output ekonomi akan menyusut tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper