Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Mantap! Fitch Pertahankan Peringkat BI dengan Outlook Stabil BBB

Fitch mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia (RI) pada BBB (investment grade) dengan outlook stabil. Ini kata BI.
Suasana deretan gedung bertingkat dan perumahan padat penduduk di Jakarta, Senin (4/7/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Suasana deretan gedung bertingkat dan perumahan padat penduduk di Jakarta, Senin (4/7/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Fitch, lembaga pemeringkat, kembali mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia (RI) pada BBB (investment grade) dengan outlook stabil, pada 14 Desember 2022.

“Keputusan ini mempertimbangkan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah yang baik serta rasio utang Pemerintah terhadap PDB yang rendah,”  tulis Fitch, dikutip dari laman resmi Bank Indonesia (BI), Rabu (14/12/2022).

Kendati demikian, Fitch memberikan beberapa catatan yaitu penerimaan pemerintah yang masih rendah serta beberapa indikator struktural seperti indikator tata kelola, yang relatif lebih rendah dibandingkan negara-negara lain pada peringkat yang sama.

Menanggapi hasil tersebut, Gubernur Bank Indonesia Perry Wajiyo menyampaikan bahwa keputusan Fitch untuk mempertahankan peringkat RI tetap pada BBB menunjukkan keyakinan kuat pemangku kepentingan internasional terhadap stabilitas makroekonomi dan prospek ekonomi jangka menengah Indonesia yang tetap terjaga.

“Kepercayaan dunia internasional ini didukung oleh kredibilitas kebijakan yang tinggi dan sinergi bauran kebijakan yang kuat antara pemerintah dan Bank Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi dan peningkatan risiko stagflasi seiring kenaikan suku bunga kebijakan secara global,” ujarnya.

Fitch dalam laporan yang dirilis pada Rabu (14/12/2022) menilai pemulihan ekonomi Indonesia akan berlanjut dan diperkirakan tumbuh 5,2 persen pada tahun ini. Sementara, pertumbuhan pada 2023 diprediksi tumbuh melambat sebesar 4,8 persen.

Pertumbuhan yang melambat tersebut lantaran permintaan global yang melemah, suku bunga yang tinggi, dan harga komoditas yang menurun.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper