Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Gawat! Defisit Fiskal China Tembus Rekor Tertinggi, Nyaris Sentuh US$1 Triliun

Defisit fiskal untuk semua tingkat pemerintahan mencapai 7,16 triliun yuan (US$ 980 miliar) hingga kuartal III/2022(year-to-date/ytd).
Asahi Asry Larasati
Asahi Asry Larasati - Bisnis.com 26 Oktober 2022  |  14:08 WIB
Gawat! Defisit Fiskal China Tembus Rekor Tertinggi, Nyaris Sentuh US$1 Triliun
Yuan China - Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Defisit fiskal China mencapai level tertinggi sepanjang masa di kuartal III/2022. Defisit ini juga dipengaruhi pembatasan Covid-19 dan anjloknya harga pasar perumahan sehingga mengikis pendapatan pemerintah.

Dilansir dari Bloomberg pada Rabu (26/10/2022), berdasarkan data yang dikeluarkan kementrian keuangan pada hari Selasa, defisit fiskal untuk semua tingkat pemerintahan mencapai 7,16 triliun yuan (US$ 980 miliar) sejak awal tahun (year-to-date/ytd).

Data tersebut merupakan rekor tertinggi untuk periode yang sama tahun sebelumnya dan hampir tiga kali lipat dari defisit tahun lalu sebesar 2,6 triliun yuan.

Ekonom Lisheng Wang Goldman Sachs Group Inc. melaporkan kondisi fiskal China telah menghadapi tantangan yang signifikan sejak musim semi tahun ini, dari kontraksi tajam dalam penjualan tanah, potongan pajak skala besar dan penangguhan, juga lebih banyak pengeluaran untuk kontrol wabah Covid-19,

Pertumbuhan ekonomi rebound menjadi 3,9 persen pada kuartal III/2022, setelah lockdown di Shanghai dan kota-kota lain pada awal tahun mendorong produk domestik bruto hingga mendekati stagnasi pada kuartal kedua. Kenaikan didorong oleh peningkatan investasi infrastruktur, meskipun penjualan ritel melemah dan pengangguran meningkat.

Kegiatan di sektor jasa, yang menyumbang lebih dari setengah ekonomi China, terkontraksi bulan lalu untuk pertama kalinya sejak Mei.

Total pendapatan dari anggaran umum dan dana pemerintah mencapai 19,9 triliun yuan dalam sembilan bulan pertama tahun ini. Pendapatan publik umum turun 6,6 persen dari tahun sebelumnya, yang melambat dari penurunan 8 persen dalam delapan bulan pertama. Kementerian Keuangan mengatakan pendapatan bisa meningkat 4,1 persen jika bukan karena potongan pajak.

Namun, sebagian besar keringanan pajak dibagikan pada bulan April-Juni, yang telah menyebabkan peningkatan pendapatan dalam beberapa bulan terakhir. Pada bulan September, pendapatan negara naik 8,4 persen dari tahun lalu menjadi 1,5 triliun yuan.

Pendapatan dari penjualan tanah menurun 28,3 persen pada dalam sembilan bulan pertama tahun ini menjadi 3,85 triliun yuan, dibandingkan dengan penurunan 28,5 persen pada Januari-Agustus.

Pengembang properti tidak mau membeli tanah karena tengah bergulat dengan krisis likuiditas yang telah mendorong beberapa pemerintah daerah untuk menjual tanah kepada perusahaan milik negara untuk mencoba dan menghasilkan pendapatan langsung.

Total pengeluaran pemerintah hingga kuartal III/2022 mencapai 27,1 triliun yuan, termasuk pengeluaran publik umum, pendidikan, perawatan kesehatan, pertahanan dan ilmiah senilai 19 triliun yuan. Belanja pemerintah naik jadi 6,2 persen pada tahun ini, dibandingkan dengan kenaikan 6,3 persen pada periode Januari-Agustus. Pengeluaran di bawah anggaran dana pemerintah naik 12,5 persen, turun dari 23,4 persen dalam delapan bulan pertama.

Ekonom Yuekai Securities Co. Luo Zhiheng menilai China perlu memulihkan defisit resminya, yang hanya mencakup anggaran publik umum, menjadi lebih dari 3 persen dari produk domestik bruto tahun depan.

Sebab, Beijing menetapkan target defisit tahun ini sekitar 2,8 persen dari PDB, tetapi peningkatan defisit akan diperlukan untuk menangani tekanan fiskal yang diperkirakan akan meningkat sebagian karena krisis sektor properti.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china ekonomi china defisit fiskal
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top