Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Benarkah Cadangan Beras Nasional Menipis? Ini Kata Kementan

Kementan melihat stok cadangan beras pemerintah atau CPB di Bulog bukan merosot karena produktivitas petani, melainkan persaingan ketat dengan swasta.
Indra Gunawan
Indra Gunawan - Bisnis.com 26 Oktober 2022  |  10:01 WIB
Benarkah Cadangan Beras Nasional Menipis? Ini Kata Kementan
Pekerja berada di gudang Bulog di Jakarta, Rabu (2/9/2020). Bisnis - Nurul Hidayat
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) meragukan stok cadangan beras nasional menipis. Sebab, pemain swasta seperti Grup Wilmar justru saat ini merambah bisnis beras dengan membuka pabrik di Sumatra Selatan.

Kepala Bagian Evaluasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Batara Siagian mengatakan kapasitas produksi di pabrik baru Wilmar Group itu akan dibangun sama besarnya dengan di Ngawi, Jawa Timur. Dengan demikian, dia yakin persediaan beras di tingkat petani dan penggilingan kini masih melimpah.

Menurutnya, hal tersebut membuktikan bisnis beras cukup menggiurkan, terutama bagi yang mempunyai pabrik atau penggilingan lantaran bisa menentukan harga.

"Kalau Wilmar Grup, beras di sana itu ditakuti, artinya apa? Ya ditakuti penggilingan," kata Batara dalam diskusi publik Pataka Channel secara virtual, Selasa (25/10/2022).

Dia mengungkapkan yang menjadi persoalan pemerintah sulit menyerap beras, karena para swasta seperti Wilmar berani membeli hasil panen petani dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan harga pembelian Bulog. Terlebih, pada saat musim gadu kualitas gabah petani sedang bagus-bagusnya.

"Kalau petaninya senang harganya tinggi," ujarnya.

Merujuk pada kondisi itu, dia melihat stok cadangan beras pemerintah (CBP) di Bulog bukan merosot karena produktivitas petani, melainkan persaingan ketat dengan swasta. Bulog yang terikat ketentuan harga pembelian di tingkat petani, kalah saing dengan perusahaan swasta yang bisa membeli stok dengan harga lebih tinggi.

"Artinya pelaku usaha swasta masih bisa main. Berarti apa? Barang [beras] ada. Kalau enggak ada, tidak mungkin dia [swasta] bangun pabrik di sana," ujar Batara.

Terlebih, berdasarkan data dari Badan Pangan Nasional (Bapanas), Bulog hanya menguasai 11,3 persen dari seluruh stok beras nasional, sedangkan di penggilingan, pasokannya mencapai 21,1 persen stok beras nasional.

Batara menuturkan kalau pun produksi petani menurun, seharusnya hasil panen bulan lalu dapat menutupi kebutuhan 2-3 bulan ke depan.

"Kok di pemerintah itu diskusinya panjang, sedangkan ada orang memainkan peranan yang simpel, tapi dia paling ditakuti di daerah Ngawi sana," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Distribusi dan Cadangan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Rachmi Widiriani mengatakan stok cadangan beras pemerintah di Perum Bulog pada Oktober 2022 ini hanya 673.613 ton atau hanya 11 persen. Jika dibandingkan Oktober tahun lalu, stok saat ini adalah yang paling kecil. Pada Oktober 2021, stok CBP Bulog mencapai 1,25 juta ton.

Dia memprediksi target CBP sebesar 1,2 juta ton pada Desember 2022 tidak bisa tercapai. Dalam praktiknya, kata Rachmi, pengadaan beras pada dua bulan terakhir ini sangat sedikit. Bahkan, Bapanas memprediksi stok beras di Bulog pada akhir tahun di bawah 500.000 ton.

“Secara nasional stok beras di Indonesia aman. Karena kita prediksi sampai akhir tahun ada 5,5-5,7 juta ton. Hanya sebarannya di Bulog 11 persen. Idealnya Bulog punya 1,2 juta ton. Kenapa? Kebutuhan untuk melakukan intervensi stabilisasi pasokan dan harga itu kan harus berjalan tiap bulan ada supaya tidak seperti pemadam kebakaran, nggak sempat melonjak tinggi, karena dampak ke inflasi cukup tinggi untuk beras,” ungkap Rachmi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

beras cadangan beras pemerintah Beras Bulog Harga Beras
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top