Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Strategi Mercedes Bertahan Di Tengah Ancaman Resesi Global

Ini strategi Mercedes-Benz Group Automotive manufacturer (AG) berusaha bertahan di saat ancaman resesi global kian menguat.
Asahi Asry Larasati
Asahi Asry Larasati - Bisnis.com 18 Oktober 2022  |  17:04 WIB
Strategi Mercedes Bertahan Di Tengah Ancaman Resesi Global
Mercedez GLS 400 AMG Line Seite 5 - Wheelsage
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Mercedes-Benz Group Automotive manufacturer berusaha bertahan untuk meningkatkan penjualan sekalipun kondisi ekonomi global menuju resesi atau situasi yang kian memburuk. 

Dilansir dari Bloomberg pada Selasa (18/10/2022), pada bulan Mei pembuat mobil mewah menguraikan sasaran margin operasi sebesar 14 persen dalam kondisi normal pada tahun 2025, tidak lebih rendah dari 8 persen dalam kondisi yang buruk.

Chief Executive Officer Ola Kaellenius mengungkapkan perusahaan mau tak mau harus menciptakan pola keuangan yang kuat.

Dia mengatakan dorongan yang bergantung pada pergerakan portofolio kelas atas Mercedes, dimaksudkan untuk meyakinkan investor bahwa perusahaan dapat meningkatkan siklus ekonomi yang lebih baik.

Produsen mobil mewah tersebut telah melalui sejumlah kemunduran sejak guncangan pandemi Covid-19 dan gangguan rantai pasokan terkait cip yang sekarang mereda.

"Namun, terdapat sedikit penangguhan karena meningkatnya siklus ekonomi, harga energi yang tinggi dan langkah-langkah pandemi yang ketat di China mengancam untuk menunda pembeli," ujar perwakilan Mercedes-Benz Group. 

Banyak produsen termasuk Mercedes sedang mengerjakan daftar pesanan yang sedang berkembang, sejauh ini belum melihat banyak perubahan dalam permintaan.

Selama kuartal I/2022, kinerja perseroan naik ke rekor 16,4 persen karena Mercedes mengalihkan produksi ke kendaraannya yang paling menguntungkan. Sebelum kinerja perusahaan tergelincir di kuartal II/2022 karena tingginya angka inflasi. 

Terlepas dari kemewahan serta mencakup fokus pada berperforma, saham Mercedes telah turun 18 persen sepanjang tahun ini. Tidak seperti rekan Jerman Volkswagen AG dan BMW AG, pembuat sedan EQS tidak memiliki investor jangkar dominan yang dapat menangkis faktor eksternal. 

“Kelipatan kita terlalu rendah. Namun, kita bisa melihat sisi lain dari transformasi, saya yakin ada banyak nilai yang bisa dibuka di saham kita," jelas Kaellenius.

Sementara Mercedes mencari lebih banyak pembeli mobil mewah, pembuat kendaraan roda empat lain mengambil langkah untuk memisahkan bisnis kendaraan listrik (EV ) dalam upaya untuk memicu pangsa pasar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mercedez benz Resesi
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top