Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ini Alasan China Setengah-setengah Dukung Rusia, Kremlin OTW Bangkrut?

Faktor ekonomi membuat China tampak setengah-setengah dalam mendukung Rusia.
cina23.jpg Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin memastikan latihan milter tentara nasional China di dekat Taiwan sejalan dengan konstitusi negara dan hukum internasional./Istimewa
cina23.jpg Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin memastikan latihan milter tentara nasional China di dekat Taiwan sejalan dengan konstitusi negara dan hukum internasional./Istimewa

Bisnis.com, SOLO - Alasan China terlihat setengah-setengah dalam membantu Rusia ternyata erat kaitannya dengan urusan ekonomi dan keuntungan global.

Seperti diketahui, hubungan antara China dan Rusia semakin dekat setelah Kremlin melakukan invasi ke Ukraina pada Februari 2022 lalu.

Tiongkok bahkan mengirim 2000 pasukan untuk berlatih di Rusia. Akan tetapi jika dilihat dalam delapan bulan ini, China tampak setengah-setengah dalam membantu Kremlin.

Sempat tersiap kabar jika militer Vladimir Putin banyak yang dipukul mundur tentara Ukraina. Adapula spekulasi jika Rusia sudah banyak kehilangan persenjataan di medan perang.

Namun, China tak terlalu menanggapi isu tersebut dengan mengirim bantuan seperti yang dilakukan AS kepada Ukraina. Mengapa demikian?

Dilansir dari Heritage.org, Rusia terkunci dalam perang yang membuat ekonominya babak belur oleh gelombang sanksi Barat.

Laporan tersebut menulis hahwa Rusia bukan lagi negara adidaya sejak melakukan invasi ke Ukraina.

GDP-nya diprediksi hanya menyentuh ngka $1,5 triliun yang kurang dari Provinsi Guangdong di China yang mencapai $1,8 triliun. 

Kelemahan ekonomi ini membuat China berpikir matang jika berencana ingin berada di sisi Rusia dalam waktu yang lama.

China secara ekonomi penting bagi Rusia, namun tidak sebaliknya.

Rusia hanya menyumbang sebagian kecil dari perdagangan China (2 persen pada tahun 2021). Hubungan perdagangan Beijing dengan AS dan Eropa jauh lebih besar (26 persen pada 2021), menurut Trade Data Monitor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Sumber : Heritage.org, Independent
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper