Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Core Indonesia Tak Yakin BI Agresif Naikkan Suku Bunga meski Inflasi Tinggi

Sebagaimana diketahui, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada Agustus 2022 dan 50 bps pada September 2022, sehingga menjadi 4,25 persen.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 03 Oktober 2022  |  17:20 WIB
Core Indonesia Tak Yakin BI Agresif Naikkan Suku Bunga meski Inflasi Tinggi
Karyawan melintas di dekat logo Bank Indonesia di Jakarta, Senin (3/2 - 2020).
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Center of Reform on Economics atau Core Indonesia menilai bahwa Bank Indonesia tidak akan menaikkan suku bunga acuan secara agresif meskipun inflasi meningkat tinggi.

Hal tersebut disampaikan oleh Ekonom Core Indonesia Yusuf Rendy Manilet, sebagai respons atas pengumuman data inflasi September 2022 pada angka 5,95 persen. Catatan itu melanjutkan tren kenaikan inflasi, Agustus 2022 yang telah mencapai 4,69 persen.

Menurut Yusuf, tingginya inflasi tentu akan memengaruhi kondisi moneter, apalagi negara-negara maju turut memperketat kebijakan moneternya. Namun, dia menilai bahwa Bank Indonesia (BI) tidak akan mengambil langkah agresif atas kondisi saat ini.

"Peluang [menaikkan suku bunga] tetap ada. Namun, saya melihatnya lebih kecil untuk dilakukan, mengingat di kebijakan terakhir BI sudah langsung menaikkan suku bunga sebesar 50 bps," ujar Yusuf kepada Bisnis, Senin (3/10/2022).

Dia meyakini bahwa BI melakukan langkah preventif karena adanya potensi kenaikan inflasi pada sisa tahun berjalan. Oleh karena itu, kebijakan suku bunga tidak akan terlalu agresif karena terdapat upaya penanganan lainnya.

Core memperkirakan bahwa inflasi pada akhir 2022 bisa mencapai 6 persen. Kenaikan masih akan terjadi karena efek kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang tetap ada, lalu harga pangan dan komoditas berpotensi masih akan meningkat.

"Kami melihatnya inflasi ke depan perlu diperhatikan dampak dari terganggunya aliran distribusi barang, terutama kepada produk-produk komoditas pangan strategis," ujar Yusuf.

Sementara itu, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter Bank Indonesia (BI) Wahyu Agung Nugroho menyampaikan meningkatnya inflasi saat ini disebabkan oleh kenaikan harga BBM

Dampak dari kenaikan harga BBM pun mulai terlihat pada peningkatan tarif transportasi. Wahyu mengatakan, dampak ini juga masih akan berlanjut hingga 2–3 bulan ke depan. Sejalan dengan itu, laju inflasi inti juga diperkirakan terus meningkat ke depan.

Selain akibat kenaikan harga BBM, inflasi inti juga terdorong sebagai dampak dari tingginya inflasi pangan. “Total dampak dari kenaikan harga BBM ke inflasi 1,8–1,9 persen, di akhir tahun inflasi inti diperkirakan menjadi sekitar 4,6 persen,” katanya, Sabtu (1/10/2022).

Wahyu mengatakan, untuk menjaga peningkatan ekspektasi dan inflasi ke depan, BI akan fokus kebijakan moneter pada pengendalian inflasi sehingga inflasi dapat kembali ke sasaran target 2–4 persen.

Sebagaimana diketahui, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Agustus 2022 dan 50 basis poin pada September 2022, sehingga menjadi 4,25 persen. Hal tersebut kata Wahyu sebagai langkah front loaded, forward looking, preemptive, untuk menurunkan ekspektasi inflasi.

“Salah satu pertimbangan BI melakukan kebijakan suku bunga front loaded dan preemptive, ini harus segera dikendalikan agar tidak memengaruhi ekspektasi inflasi,” katanya.

Wahyu menambahkan, kenaikan suku bunga acuan ke depan masih sangat bergantung pada perkembangan inflasi inti dan ekspektasi inflasi.

“Kita akan koordinasikan lagi apabila butuh tambahan kenaikan lagi atau kenaikan yang ada apakah sudah cukup,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

suku bunga acuan Inflasi ekonomi
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top