Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tak Bergantung SPKLU, BRIN Ungkap Kelebihan Wireless Charging

BRIN tengah mengembangkan sistem wireless charging untuk kendaraan listrik di tengah minimnya Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU)
Afiffah Rahmah Nurdifa
Afiffah Rahmah Nurdifa - Bisnis.com 26 September 2022  |  21:55 WIB
Tak Bergantung SPKLU, BRIN Ungkap Kelebihan Wireless Charging
Logo Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) - Antara
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Penggunaan kendaraan listrik atau electricity vehicle (EV) terus digencarkan pemerintah berdasarkan arahan Presiden Joko Widodo dengan target capaian net zero carbon pada 2050.

Sebagai upaya mendukung program pengadaan EV tersebut, para periset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengadakan penelitian terkait wireless charging atau pengisian daya nirkabel.

Senior Researcher Pusat Riset Teknologi Transportasi BRIN Aam Muharam mengatakan penggunaan tersebut tengah populer di Eropa dan Asia, khususnya Jepang.

Oleh karenanya, BRIN berupaya untuk menghadirkan wireless charging di Tanah Air dalam waktu dekat ini. Sebab, sistem ini juga diisukan akan digunakan di IKN Nusantara.

"Stasiun pengisian yang belum tersebar ke seluruh Indonesia menjadi perhatian kami. Ini yang memicu kami melakukan riset wireless charging," kata Aam dalam webinar Menuju Era Futuristik dengan Riset Kendaraan Listrik, Senin (26/9/2022).

Gencarnya pengadaan EV dinilai masih belum setara dengan akses Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang saat ini masih terbatas.

Aam menyebutkan sistem wireless charging nantinya tidak akan bergantung pada SPKLU saja, melainkan akan terbagi menjadi empat lokasi yaitu residential system (charging di rumah), tempat parkir umum, pinggir jalan raya, dan pengisian dinamis (sambil berjalan).

Namun, Aam menyebutkan sejumlah tantangan yang masih menjadi perhatian, khususnya untuk memenuhi standar teknologi wireless charging.

"Integrasi antar fasilitas juga perlu disamakan. Infrastruktur seperti kondisi jalan, material jalan, dan sumber daya untuk wireless charging perlu menjadi perhatian," tuturnya.

Selain itu, pengamanan dari wireless charging juga masih terus diteliti agar radiasi magnet tidak keluar dari sistem tersebut. Salah satu yang mengkhawatirkan dalam penggunaan mobil listrik yaitu paparan medan elektromagnetik yang dapat membahayakan kesehatan untuk waktu yang panjang.

Berdasarkan standar dari International Commission on Non-Ionizing Radiation Protection (ICNIRP) Standard, level keamanan radiasi dari sistem terhadap makhluk hidup berada di kisaran level 48,4 V/m dan 60,75 V/m.

Sementara tegangan statis yang muncul dalam sistem wireless charging ada level maksimal aman untuk pengguna yaitu sekitar 8,35 V.

"Para periset dari wireless charging memang menaruh perhatian besar terhadap radiasi. Kami menerapkan metode pengamanan yang kami tanamkan pada sistem wireless charging, jadi radiasi yang dikeluarkan masih diambang batas aman," jelasnya.

Menurut Aam, sistem keamanan dari wireless charging yang berkembang saat ini bisa dipastikan masih dalam besaran radiasi yang aman. Pihaknya melakukan pengujian dan menemukan medan magnet masih ada di level yang aman diterima manusia.

Selain itu, Aam menyebutkan tantangan lainnya dalam pengembangan sistem wireless charging adalah lokasi untuk pemasangan. Pasalnya, untuk di Jakarta yang sebagaian wilayahnya berpotensi banjir jika terjadi hujan besar bisa menyebabkan risiko yang cukup besar untuk pengguna.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top