Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Bisnis Ritel bisa Terdampak Masif Oleh Kenaikan Harga BBM, Ini Penyebabnya

Kenaikan harga bahan bakar minyak berimbas pada bisnis ritel modern seperti Alfamart (AMET) Dkk
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 13 September 2022  |  02:24 WIB
Bisnis Ritel bisa Terdampak Masif Oleh Kenaikan Harga BBM, Ini Penyebabnya
Ilustrasi kenaikan BBM
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kalangan ekonom menyebut naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) berpotensi memberi dampak masif terhadap bisnis ritel modern seperti Alfamart (AMET) Dkk. apabila daya beli masyarakat kelas menengah melemah. 

Menurut Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, potensi melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah cukup besar. Sebab, naiknya harga BBM tidak diiringi dengan kompensasi yang sepadan. 

"Pertama, kenaikan harga BBM belum dikompensasi dengan kenaikan upah, sedangkan BBM adalah kebutuhan pokok yang akan tetap dibeli sehingga mereka akan mengurangi belanja untuk kebutuhan lain. Termasuk di ritel modern," kata Bhima kepada Bisnis, Senin (12/9/2022). 

Sementara itu, lanjutnya, proteksi pemerintah terhadap konsumen kelas menengah dinilai hampir tidak efektif. Saat ini, kata Bhima, hanya ada bantuan subsidi upah terhadap pekerja yang mayoritas berdomisili di perkotaan. 

Di samping itu, segmen masyarakat kelas bawah yang mendapatkan subsidi berupa bantuan langsung tunai (BLT) dengan anggaran total Rp12,4 triliun dinilai bukan merupakan segmentasi pasar bisnis ritel modern. 

Uang subsidi tersebut diperkirakan bakal menyasar warung-warung serta pasar tradisional yang merupakan segmentasi pasar masyarakat ekonomi kelas bawah. 

Menyiasati kondisi tersebut, peritel modern dikatakan mungkin dapat melakukan berbagai penyesuaian.Pertama, mengubah format etalase dengan menampilkan produk-produk dengan harga yang sesuai dengan daya beli masyarakat. 

Kedua,melakukan beberapa efisiensi seperti pengurangan beban operasional. Misalnya, kata Bhima, pebisnis ritel dapat lebih selektif dalam melakukan ekspansi, baik dari segi pemilihan lokasi maupun ukuran toko. 

"Ritel ini memang paling besar terdampaknya karena kenaikan harga BBM karena bersentuhan langsung dengan konsumen. Kalau kenaikan harga produk dirasa terlalu tinggi, bisa memengaruhi omzet," jelasnya. 

Tunggu Produsen

Pada perkembangan lain, emiten pengelola jaringan ritel Alfamart, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT), masih meminta data perubahan harga produk kepada produsen seiring dengan naiknya BBM. 

Corporate Affairs Director Alfamart Solihin mengatakan data tersebut secara garis besar terkait dengan tanggal kenaikan harga produk, persentase kenaikan, dan beberapa penyesuaian lainnya. 

"Alfamart lagi minta data ke produsen. Produsen bisa jadi sedang wait and see juga karena masih harus melihat peluang bisnis dengan kompetitor [dalam menaikkan harga]," kata Solihin kepada Bisnis. 

Dia menjelaskan, biasanya, terdapat 2 kemungkinan dalam hal penyesuaian harga oleh produsen yang memasok produk-produknya ke perusahaan ritel seperti Alfamart. 

Pertama, sebagai contoh, produsen menaikkan harga produknya di Alfamart pada 15 Oktober 2022, tetapi masih menjual barang kepada peritel dengan harga lama untuk pembelian terakhir. Dengan catatan, jumlah pembelian tidak melebihi batas rerata yang ditentukan. 

Kedua, terdapat juga kemungkinan produsen memberitahukan peritel bahwa kenaikan harga bakal dilakukan, tetapi sudah menjual produk-produknya dengan nilai yang sudah disesuaikan. 

Sebagai informasi, sebelumnya Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) juga sudah menanyakan perihal penyesuaian harga produk kepada Alfamart terkait dengan kenaikan harga BBM. 

Sekadar informasi, Alfamart saat ini memiliki lebih dari 300 unit produsen yang memasok produk-produk kepada emiten berkode saham AMRT tersebut. 

Lebih jauh, Solihin menjelaskan asosiasi produsen produk makanan dan minuman (mamin) seperti Gabungan Pengusaha Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) memiliki sejumlah pertimbangan dalam menyesuaikan harga produk. 

"Gapmmi sebagai gabungan produsen memperhitungkan komponen yang berdampak terhadap harga jual terhadap peritel, seperti transportasi dan produksi yang menggunakan bahan bakar," jelasnya. 

Sebelumnya Ketua Umum GAPMMI Adhi Lukman mengatakan ongkos produksi produk mamin berpotensi naik di kisaran 1-2 persen akibat kenaikan harga BBM. 

Sebagaimana diketahui, harga bahan bakar solar sendiri mengalami kenaikan sekitar 24 persen dari Rp5.150 per liter menjadi Rp6.800 per liter sejak pemerintah menaikkan harga pada akhir pekan lalu. 

Adhi juga menjelaskan ingkos logistik di industri mamin saat ini memiliki kontribusi rata-rata sekitar 6 persen terhadap keseluruhan biaya produksi.

Di industri tersebut, sambungnya, BBM berkontribusi terhadap sekitar 50 persen dari keseluruhan ongkos logistik. Sisanya, dikeluarkan untuk biaya supir tol dan lain-lain. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga BBM
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top