Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Lonjakan Harga Pangan Masih Menghantui, Ini Kata Akademisi

Tren harga pangan saat ini telah menunjukkan penurunan secara perlahan, tetapi Indonesia diminta untuk waspada.
Annasa Rizki Kamalina
Annasa Rizki Kamalina - Bisnis.com 02 September 2022  |  12:42 WIB
Lonjakan Harga Pangan Masih Menghantui, Ini Kata Akademisi
Ilustrasi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Akademisi melihat tren harga pangan saat ini sudah menunjukkan penurunan secara bertahap meskipun harga pangan global masih tinggi.

Guru Besar IPB University Bayu Krisnamurthi mengungkapkan wajar ada perubahan harga, tetapi yang menjadi hal penting adalah tren harga yang telah menunjukkan penurunan secara perlahan.

“Proses kenaikan menjadi setinggi ini sudah berlangsung sejak tahun lalu, setahun, jadi ya wajar saja penurunannya juga bertahap. Yang penting trennya sudah menuju normalisasi,” ujarnya, Kamis (1/9/2022).

Beberapa harga pangan pada tahun ini menunjukkan fluktuasi. Sebut saja daging sapi yang melambung menjelang Hari Raya Idul Fitri mencapai Rp150.000 per kilogram (kg), serta cabai dan bawang yang melonjak lebih dari Rp100.000 per kg akibat keterbatasan pasokan.

Berdasarkan data dalam early warning system Kementerian Perdagangan, sepanjang periode Agustus 2022, mayoritas pangan menunjukan penurunan harga, hanya telur ayam dan tepung terigu yang terpantau mengalami kenaikan. Namun bila membandingkan dengan harga tahun lalu, sudah jelas kini lebih tinggi.

Mantan Wakil Menteri Perdagangan Kabinet Indonesia Bersatu II tersebut mengungkapkan bahwa ada hal penting yang perlu diperhatikan soal pangan, bukan hanya untuk saat ini, tetapi untuk tahun depan.

Hal yang menjadi sorotan, menurutnya, berdasarkan iklim Indonesia, diproyeksikan tahun depan akan dilanda El Nino. Artinya Indonesia akan menghadapi kekeringan yang berpengaruh terhadap proses penanaman.

“Kami sudah alami 3 tahun berturut-turut kondisi LaNina [iklim yang basah]. Lazimnya tahun berikutnya akan kering [El Nino]. Iklim kering akan buruk bagi produksi serealia/biji-bijian,” jelasnya.

Untuk itu, Bayu menegaskan penting memperkuat stok pangan, baik yang tersedia di lading maupun di gudang. Serta yang berada di dalam maupun di luar negeri.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono mengatakan Indonesia harus tetap waspada lantaran rantai pasok global saat ini belum pulih, sehingga akan mempengaruhi harga-harga komoditas pangan yang harus diimpor.

“Trennya [harga] memang cenderung turun, tapi ketidakpastiannya masih tinggi dan levelnya masih tinggi ini perlu diwaspadai, nanti dampaknya kepada harga-harga dalam negeri,” ujar Margo dalam keterangan persnya, Kamis (1/9/2022).

Mengutip data BPS, harga gandum per Juli mencapai US$382,5 per ton, turun dari posisi US$294,5 per ton pada Juli tahun lalu. Kemudian, harga kedelai tercatat naik menjadi US$678,2 per ton pada Juli 2022 dari sebelumnya US$600,4 per ton secara tahunan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga pangan impor pangan Inflasi La Nina
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top