Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Impor BBM Semester I/2022 Tembus US$14,37 Miliar, Melonjak 97,71 Persen

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor minyak mentah sepanjang Januari-Juli 2022 melesat 97,71 persen dari periode yang sama tahun lalu.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 15 Agustus 2022  |  14:00 WIB
Impor BBM Semester I/2022 Tembus US$14,37 Miliar, Melonjak 97,71 Persen
Tangki penyimpanan minyak di California, Amerika Serikat - Bloomberg/David Paul Morris
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan impor hasil minyak mentah Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2022 mencapai di angka US$14,37 miliar atau naik 97,71 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Deputi Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS Setianto mengatakan nilai impor yang tinggi itu dipengaruhi karena harga komoditas minyak mentah dunia yang masih bertengger tinggi sedangkan permintaan domestik mengalami peningkatan yang signifikan hingga saat ini.

“Kalau kita lihat volumenya itu [Januari-Juli 2022] itu 14,3 juta ton naik 17,63 persen,” kata Setianto saat konferensi pers, Senin (15/8/2022).

Sementara itu, Setianto menambahkan nilai impor LPG pada periode tersebut mencapai US$3,12 miliar. Adapun realisasi volume impor sepanjang Januari hingga Juli 2022 sebesar 3,9 juta ton.

“Dibandingkan Januari-Juli 2021 nilai impor LPG naik 49,64 persen secara volume meningkat 4,92 persen,” kata dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia meminta masyarakat untuk bersiap jika pemerintah belakangan memilih untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di tengah beban subsidi yang diproyeksikan membengkak hingga Rp600 triliun pada akhir 2022.

Bahlil mengakui pemerintah memiliki keterbatasan fiskal untuk tetap memberikan subsidi jumbo di tengah harga minyak mentah dunia yang masih bertengger di angka rata-rata US$105 per barel saat ini.

“Rasa-rasanya untuk menahan terus dengan harga BBM seperti sekarang, feeling saya harus kita siap-siap kalau katakanlah kenaikan BBM itu terjadi,” kata Bahlil saat Konferensi Pers Perkembangan Pencabutan Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Kementerian Investasi, Jakarta, Jumat (12/8/2022).

Apalagi, kata Bahlil, pemerintah mesti menambah kembali kuota BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Solar pada paruh kedua tahun ini untuk mengimbangi tingkat konsumsi masyarakat yang melebihi proyeksi awal tahun.

Konsekuensinya, alokasi anggaran untuk subsidi pada paruh kedua tahun ini diproyeksikan melebihi postur anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) perubahan 2022.

“Kuota [Pertalite] kita dari 23 juta kiloliter menjadi 29 juta kiloliter maka terjadi penambahan subsidi, hitung-hitungan kami belum final bisa di Rp500 triliun sampai Rp600 triliun,” kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor minyak BPS harga minyak mentah bbm subsidi lpg
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top