Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Beralih dari Gas, IEA Prediksi Permintaan Minyak Akan Naik

Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menaikkan prediksi permintaan minyak seiring mahalnya harga gas alam.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 12 Agustus 2022  |  15:58 WIB
Beralih dari Gas, IEA Prediksi Permintaan Minyak Akan Naik
Rangkaian kereta pengangkut minyak mentah, bahan bakar, dan gas cair dalam posisi miring di stasiun kereta Yanichkino, menuju ke kilang Gazprom Neft PJSC Moscow di Moskow, Rusia - Bloomberg/Andrei Rudakov
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menaikkan prediksi permintaan minyak seiring mahalnya harga gas alam dan peralihan bahan bakar ke minyak untuk mengoperasikan pembangkit listrik.

Dilansir Bloomberg pada Jumat (12/8/2022), IEA memprediksi konsumsi minyak dunia akan meningkat menjadi 2,1 juta barel per hari pada tahun ini atau sekitar 2 persen. Angka itu meningkat 380.000 per hari dari prediksi sebelumnya.

Permintaan ekstra yang mendorong revisi tersebut sangat terkonsentrasi di Timur Tengah dan Eropa, sebagai bagian dari sanksi yang dijatuhkan atas invasi Rusia ke Ukraina.

Peningkatan tersebut telah mendorong banyak konsumen industri, termasuk penyulingan dan pembangkit listrik, untuk beralih dari gas ke minyak.

Temperatur yang tinggi juga mendorong permintaan AC, khususnya di Timur Tengah, di mana sejumlah besar minyak dibakar selama musim panas untuk menghasilkan listrik.

"Harga gas alam dan listrik telah melonjak ke rekor baru, mendorong peralihan gas ke minyak di beberapa negara," kata IEA, badan yang memberikan rekomendasi kepada sebagian besar ekonomi utama tentang kebijakan energi.

"Dengan beberapa wilayah yang mengalami gelombang panas terik, data terbaru mengonfirmasi peningkatan pembakaran minyak di pembangkit listrik, terutama di Eropa dan Timur Tengah."

Kendati konsumsi naik, IEA tidak yakin pasar minyak akan menghadapi kelangkaan suplai dengan simpanan yang diproyeksikan membengkak pada tingkat 900.000 barel per hari hingga akhir tahun ini.

Produksi minyak Rusia terbukti lebih tangguh daripada perkiraan sebelumnya di tengah sanksi internasional. Pasokan juga sedang diisi oleh pelepasan dari cadangan darurat pemerintah yang diumumkan awal tahun ini.

Kepala Divisi Pasar Minyak IEA Toril Bosoni dalam sebuah wawancara televisi Bloomberg mengatakan pelepasan ini dijadwalkan akan berlanjut hingga Oktober, dan dapat diperpanjang lebih lama.

"Kami masih memiliki banyak stok darurat di negara-negara anggota kami. Ini adalah sesuatu yang akan dibahas setelah rilis saat ini selesai," ujarnya.

Kendati demikian, prediksi kenaikan permintaan minyak sangat kontras dengan prospek yang dirilis Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang justru memangkas target minyak mentah yang harus dipompa pada kuartal III/2022 sebesar 1,24 juta barel per hari menjadi 28,27 juta per hari.

Angka itu lebih sedikit sekitar 570.000 barel per hari dibandingkan yang sudah dipompa oleh 13 anggota OPEC pada Juli.

Kendati berbeda, pandangan OPEC dapat memberikan penjelasan lebih lanjut untuk peningkatan produksi minimal yang disepakati dengan sekutunya minggu lalu.

OPEC+ mengejutkan para trader pada pertemuan 3 Agustus dengan rencana untuk menambah hanya 100.000 barel per hari pada September, meskipun ada seruan dari Presiden AS Joe Biden untuk membuka keran selama kunjungan ke pemimpin kelompok Arab Saudi bulan lalu.

Aliansi tersebut menjelaskan langkah tersebut dengan mengatakan bahwa mereka harus mengerahkan kapasitas produksi cadangan yang “sangat terbatas” dengan “sangat hati-hati.”

Departemen penelitian OPEC yang berbasis di Wina memangkas proyeksi perkiraan permintaan minyak global kuartal ini sebesar 720.000 barel per hari, dan meningkatkan proyeksi pasokan non-OPEC sebesar 520.000 per hari. Diperkirakan konsumsi rata-rata 99,93 juta barel per hari dalam periode tiga bulan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

minyak opec
Editor : Nindya Aldila
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top