Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bahan Baku Rayon di Industri Tekstil Bakal Marak, Ini Penyebabnya

Penggunaan bahan baku di industri tekstil dalam negeri, terutama dari kapas menjadi rayon bakal menjadi tren dan marak.
Pekerja menjemur kain rayon untuk bahan busana bermotif dan kain pantai di Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (2/1/2020)./ANTARA - Maulana Surya
Pekerja menjemur kain rayon untuk bahan busana bermotif dan kain pantai di Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (2/1/2020)./ANTARA - Maulana Surya

Bisnis.com, JAKARTA - Perubahan tren penggunaan bahan baku di industri tekstil dalam negeri, terutama dari kapas menjadi rayon/polyester, dinilai didorong oleh 3 faktor besar.

Menurut Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, 3 faktor yang mendorong terjadinya perubahan tren penggunaan bahan baku adalah konsumen, lingkungan, dan pendanaan.

Dari sisi konsumen yang notabene adalah negara-negara tujuan ekspor seperti Amerika Serikat dan kawasan Eropa Barat, cenderung akan menolak penggunaan bahan baku yang tidak ramah lingkungan.

"Sebagian besar tujuan ekspor produk tekstil adalah negara maju dengan standar lingkungan hidup yang tinggi. Ada desakan untuk mengubah proses pengolahan limbah, konsumsi, energi, termasuk bahan baku," kata Bhima, Rabu (10/8/2022).

Kedua, masyarakat sekitar area industri yang selama ini banyak mengeluh mengenai limbah. Hal tersebut dinilai membuat bisnis terkait menjadi tidak berkelanjutan akibat iklim yang tidak kondusif.

Ketiga, dari sisi pendanaan. Bhima mengatakan lembaga keuangan mulai mempersyaratkan standar environment, social, (corporate) government (ESG) untuk pakaian jadi dengan ketentuan semakin ketat.

"Mau tidak mau perusahaan tekstil harus berinvestasi ke proses bisnis yang lebih ramah lingkungan," ujarnya.

Sejalan dengan hal di atas, produsen rayon di Tanah Air sedang beramai-ramai menambah kapasitas produksinya untuk merespons perubahan tren di industri tekstil ke depan.

Kapasitas produksi bahan baku rayon di industri tekstil Tanah Air diproyeksi meningkat tahun ini seiring dengan masuknya investasi dengan nilai lebih dari Rp8 triliun pada semester I/2022.

Ketua Umum Asosiasi Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan kapasitas produksi bahan baku rayon di Indonesia tahun ini meningkat dari 850.000 ton/tahun menjadi 1 juta/tahun.

"Akhir 2022 bisa sampai 1 juta ton/tahun karena ada investasi yang masuk. Pada 2025 atau 2026 naiknya bisa hingga 1,3 juta ton/tahun," kata Redma kepada Bisnis.

Redma menjelaskan penggunaan bahan baku rayon atau viscose bakal lebih agresif di industri tekstil. Terutama, dalam menggeser penggunaan kapas yang dinilai boros dalam mengonsumsi air di proses produksinya.

Menurut Redma, hampir semua produsen bakal menambah kapasitas produksi rayon mulai tahun ini hingga 2025.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rahmad Fauzan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper