Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Penyebab Inflasi AS Melandai Jadi 8,5 Persen pada Juli 2022

inflasi AS bulan Juli lebih rendah dari bulan Juni 2022 yang mencapai level tertinggi sejak 1981 di 9,1 persen.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 10 Agustus 2022  |  20:45 WIB
Ini Penyebab Inflasi AS Melandai Jadi 8,5 Persen pada Juli 2022
Warga Amerika Serikat sedang mengisi bahan bakar di stasiun pengisian bahan bakar AS. - Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Inflasi Amerika Serikat naik 8,5 persen pada bulan Juli 2022, lebih rendah dari bulan Juni dan dan berada di bawah ekspektasi analis. Penurunan harga bensin di AS menjadi salah satu faktor melandainya inflasi.

Dilansir Bloomberg pada Rabu (10/8/2022), Departemen Tenaga Kerja AS mencatat indeks harga konsumen (CPI) AS naik 8,5 persen pada Juli 2022 dari periode yang sama tahun sebelumnya (yoy). inflasi AS ini lebih rendah dari bulan Juni 2022 yang mencapai level tertinggi sejak 1981 di 9,1 persen.

Dibandingkan bulan sebelumnya, CPI AS tercatat stagnan. Adapun CPI inti, yang menghilangkan komponen makanan dan energi yang lebih mudah berubah, naik 0,3 persen mom dan 5,9 persen yoy.

Angka inflasi ini bawah median proyeksi ekonom dalam survei Bloomberg yang memperkirakan CPI AS naik 8,7 persen pada Juli. Adapun CPI inti diperkirakan naik 6,1 persen.

Sebelumnya, analis memperkirakan inflasi AS akan melandai tetapi masih tetap tinggi pada bulan Juli, sedangkan inflasi inti diperkirakan meningkat secara tahunan. Bagaimana data inflasi memengaruhi pandangan tentang laju pengetatan the Fed akan menjadi kunci terhadap sentimen risiko.

Harga bensin yang turun mengimbangi kenaikan biaya makanan dan tempat tinggal. Hal ini diperkirakan mengurangi tekanan Federal Reserve untuk terus menaikkan suku bunga secara agresif.

Harga tercatat bensin turun 7,7 persen pada Juli, terbesar sejak April 2020, setelah naik 11,2 persen sebulan sebelumnya. Sementara itu, harga utilitas turun 3,6 persen dari Juni, terbesar sejak Mei 2009.

Di sisi lain, harga bahan makanan naik 10,9 persen dari tahun lalu, yang merupakan kenaikan terbesar sejak 1979.

Meskipun inflasi melambat, pejabat The Fed mengatakan mereka ingin melihat bukti bahwa bahwa tekanan harga mulai berkurang, terutama dalam inflasi inti. Masih ada data inflasi bulanan Agustus sebelum pertemuan kebijakan berikutnya pada 20-21 September.

Meskipun penurunan harga bensin adalah kabar baik bagi warga AS, biaya hidup masih sangat tinggi, sehingga memaksa banyak orang menguras tabungan. Setelah data pekan lalu menunjukkan permintaan tenaga kerja yang masih kuat dan pertumbuhan upah yang lebih kuat, perlambatan inflasi lebih lanjut dapat menghilangkan urgensi The Fed untuk memperpanjang kenaikan suku bunga yang terlalu besar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi as Inflasi
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top