Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Inflasi Turki Melesat, Harga Roti dan Tiket Bus Jadi Segini dalam Setahun

Komponen biaya transportasi mencatatkan kenaikan tertinggi secara tahunan pada bulan Juni, mencapai 119,11 persen.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 04 Agustus 2022  |  09:27 WIB
Inflasi Turki Melesat, Harga Roti dan Tiket Bus Jadi Segini dalam Setahun
Uang lira Turki. - Reuters/Murad Sezer
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Inflasi tahunan Turki melesat nyaris 80 persen bulan Juli 2022, yang merupakan level tertinggi sejak tahun 1998.

Dilansir Bloomberg pada Rabu (3/8/2022), inflasi Turki melesat menjadi 79,6 persen pada Juli 2022 dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Angka ini meningkat dari level 78,6 persen pada Juni. Istanbul, kota terpadat di Turki, bahkan mencatat inflasi melebihi 99 persen (yoy) pada Juli.

Berdasarkan data Departemen Statistik Turki, komponen biaya transportasi mencatatkan kenaikan tertinggi secara tahunan pada bulan Juni, mencapai 119,11 persen. Adapun komponen makanan dan minuman nonalkohol naik 94,65 persen secara yoy.

Adapun sektor pendidikan dan komunikasi mencatatkan kenaikan terendah sepanjang Juli 2022, masing-masing sebesar 25,79 persen dan 26,82 persen yoy.

Dengan inflasi seperti ini, seberapa besar kenaikan harga yang dirasakan oleh warga Turki sepanjang setahun terakhir?

Dilansir dari Numbeoo, harga 1 papan roti tawar, misalnya, dijual senilai 7,13 lira atau Rp5.920 saat ini. Dengan mengacu pada kenaikan komponen makanan dan minuman sebesar 94,65 persen, warga Turki harus membayar 3,46 lira lebih mahal dari harga roti setahun lalu sebesar 3,66 lira atau Rp3.039 tanpa memperhitungkan pergerakan nilai tukar.

Contoh lain, harga tiket bus di Turki saat ini mencapai 8 lira atau Rp6.642 sekali jalan. Jika dihitung, harga tiket bus telah naik 4,34 lira dari 3,65 lira (Rp3.030) pada Juli 2021 jika mengacu pada kenaikan sektor transportasi sebesar 119,11 dalam setahun

Meskipun inflasi nyaris menyentuh 80 persen, analis memperkirakan angka masih belum mencapai puncaknya dan masih akan naik lagi dalam beberapa bulan mendatang.

Pertumbuhan harga akan mencapai puncaknya sekitar 85 persen pada September-Oktober, menurut grafik kisaran perkiraan yang menyertai laporan inflasi terbaru bank sentral. Bank sentral Turki saat ini memperkirakan inflasi akan mengakhiri tahun 2022 di 60,4 persen, naik hampir 18 poin persentase yang menempatkan inflasi 12 kali di atas target bank sentral.

Prospek tersebut masih relatif optimis dibandingkan dengan pandangan di pasar. Bloomberg Economics memprediksi inflasi akan mencapai 91 persen pada kuartal ketiga dan hanya melambat menjadi 69 persen pada akhir 2022.

Analis menilai kebijakan moneter longgar yang diterapkan bank sentral tidak dapat menahan laju inflasi lebih lanjut.

Meredakan cengkeraman inflasi menjadi lebih sulit untuk dicapai karena bank Sentral Turki menahan diri untuk tidak menaikkan suku bunga utamanya dari 14 persen di bawah tekanan dari Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Pekan lalu, Gubernur bank sentral Turki Sahap Kavcioglu yakin bahwa apa yang disebut model ekonomi baru yang memprioritaskan produksi, ekspor, dan lapangan kerja akan membantu menstabilkan harga dan mata uang lira.

Otoritas Turki malah mengandalkan langkah-langkah makroprudensial seperti membatasi pertumbuhan pinjaman komersial serta kebijakan yang bertujuan untuk memperluas penggunaan mata uang lokal dan menyalurkan modal ke arah investasi jangka panjang.

Fund manager RAM Capital SA Ogeday Topcular mangatakan jika kebijakan moneter ini berlanjut, kecil kemungkinan inflasi akan mereda.

“Kebijakan moneter Turki tidak berkelanjutan,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

turki krisis turki Inflasi
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top