Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Komoditas Tertekan, Pembangunan Smelter Seret Pendanaan

Masalah pendanaan akibat tertekannya harga komoditas dialami oleh sejumlah smelter yang menjadi bagian dari proyek strategis nasional (PSN).
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 26 Juli 2022  |  18:53 WIB
Harga Komoditas Tertekan, Pembangunan Smelter Seret Pendanaan
Lowongan kerja Freeport untuk proyek smelter di Manyar. - PTFI
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesian Mining Association (IMA) melaporkan perkembangan pembangunan pabrik pemurnian dan pengolahan mineral logam atau smelter relatif berjalan lamban akibat seretnya pendanaan.

Masalah pendanaan itu dialami oleh sejumlah smelter yang menjadi bagian dari proyek strategis nasional (PSN).

Pelaksana Harian Direktur Eksekutif IMA Djoko Widajatno mengatakan kondisi itu turut dikoreksi lebih dalam dengan kecenderungan harga mineral dan logam yang mulai melandai di Bursa berjangka dengan pasar terbesar di dunia, London Metal Exchange (LME) memasuki akhir triwulan kedua tahun ini.

Kendati demikian, Djoko optimis, tren pelandaian harga komoditas tidak bakal berlangsung lama menyusul peluang pembalikan permintaan pada paruh kedua 2022.

“Pasar dipengaruhi Bank Sentral Uni Eropa untuk menurunkan harga-harga komoditas yang mereka perlukan, kalau tidak mereka tidak bisa membayar bunga. Seperti Timah ini sudah turun 1,75 persen, tapi masih oke karena kita masih bisa tutup biaya operasional,” kata Djoko saat dihubungi, Selasa (26/7/2022).

Djoko menerangkan situasi itu bakal ikut menekan pendanaan percepatan pembangunan smelter di dalam negeri yang ditarget rampung dua tahun ke depan. Adapun, Djoko mengatakan, isu pendanaan menjadi kendala utama dari upaya percepatan pembangunan smelter setelah pandemi Covid-19.

Berdasarkan data Kementerian ESDM per Februari 2022, beberapa PSN yang terkendala isu pendanaan di antaranya seperti smelter nikel yang dikerjakan oleh PT Bintang Smelter Indonesia di Konawe Selatan dengan pengerjaan baru 27,85 persen, smelter bauksit yang dikerjakan oleh PT Dinamika Sejahtera Mandiri di Sanggau dengan realisasi pengerjaan 45,79 persen hingga smelter bauksit di Sanggau yang dikerjakan PT Kalbar Bumi Perkasa dengan pengerjaan sekitar 37,23 persen.

“PSN itu kan dibuat agar ada kemudahan di dalam pendanaan, tapi kan republik baru pusing membiayai Covid-19 sehingga manajemen rantai pasoknya terganggu, dananya tersendat barangnya ngga datang,” tuturnya.

Sebelumya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan terdapat tambahan 7 pabrik pemurnian dan pengolahan mineral logam atau smelter yang dapat beroperasi pada akhir tahun ini. Dengan demikian, total smelter yang bakal efektif beroperasi hingga akhir tahun ini mencapai 28 unit untuk mempercepat upaya hilirisasi komoditas mineral dan logam dalam negeri.

“Perkembangan pembangunan smelter sampai 2021 itu sudah ada 21 smelter beroperasi yang kemudian kalau kita lihat rencana 2022 itu akan ada tambahan lagi 7 smelter, tentunya kalau kita lihat mudah-mudahan bisa berjalan lancar hingga akhir 2022 itu menjadi 28 smelter,” kata Staf Khusus Menteri ESDM Irwandy Arif dalam sebuah diskusi dikutip Rabu (1/6/2022).

Adapun, Kementerian ESDM mencatat total investasi yang dibutuhkan untuk upaya percepatan pembangunan smelter hingga 2023 mencapai US$30 miliar atau setara dengan Rp437,1 triliun. Rencana anggaran itu naik 36,3 persen dari posisi awal yang dipatok sebesar US$22 miliar atau setara dengan Rp320,54 triliun pada 2021 lalu.

“Sampai 2023 itu dibutuhkan biaya pada perhitungan tahun lalu sekitar US$22 miliar, katakanlah ada inflasi kenaikan harga maksimum bisa US$30 miliar supaya rencana pendirian smelter itu sampai 2023 bisa terpenuhi,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

smelter harga komoditas pertambangan proyek strategis nasional (PSN)
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top